Selasa, 03 Desember 2013

Sinopsis Novel Ibuku Perempuan Berwajah Surga

Risma. Seorang Perempuan yang sedang mengandung yang tinggal oleh suaminya karena pernikahannya yang tidak disetujui oleh orangtua sang Suami. Risma disuruh oleh sang mertua untuk pindah kontrakan. Saat pertama kali pindah ke rumah kontrakan barunya itu banyak tetangga yang mencap miring Risma sebagai pelacur. Namun berkat kegigihan dan kesabarannya, para tetangga yang dulu mencaci dan mencemooh balik memberikan simpati. Mereka sangat menyayangi Risma, tak jarang ada yang memberi susu agar kondisi Risma dan bayinya sehat. Lingkungan yang seperti itulah yang sedikit membuat Risma bersemangat dan merasa Tuhan masih menyayanginya.
            Seperti biasanya Risma menyeterika dirumah tetangganya, namun ketika Risma sedang menyeterika tiba-tiba saja Risma merasa perutnya sangat sakit. Secara perlahan ternyata mengalir cairan diselangkangannya, hingga ke kaki.Melihat Risma yang seperti itu, tetangganya pun membawa Risma ke rumah sakit. Suasana hening, tetangga Risma dan suaminya yang masih terlihat panik itu hanya bisa duduk sambil berdoa didepan ruang bersalin. Hingga tiba-tiba pintu ruang persalinan dibuka dan sayup terdengar suara bayi menangis.
            Setelah boleh pulang dari rumah sakit, para tetangganya pun berkumpul untuk menengok Risma dan anaknya. Tak sekedar mengucapkan selamat, banyak pula yang ingin mengangkat anak dari bayi laki-laki yang tampan itu. Namun Risma menolak secara halus. Ia merasa sangat bersyukur telah dikaruniai seorang anak laki-laki tampan. Wajah anak itu mirip sekali dengan Andre, kulitnya putih bersih, berhidung mancung. Yang paling mirip adalah matanya yang bening namun agak sipit.
            Setelah melahirkan Rumi, banyak tetangga yang sering datang ke rumah. Mereka sangat menyukai Rumi yang berkulit putih bersih dan tampan itu. Tak jarang tetangganya yang kemudian datang sambil membawa makanan atau baju untuk Rumi. Keadaan itu membuat Risma makin bersemangat melanjutkan hidup. Ya, kini ia punya semangat baru.
            Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat. Tubuhnya cukup tinggi untuk anak seusianya, kulitnya yang putih bersih semakin menambah ketampanan Rumi. Sejak adanya Rumi, Risma selalu mengajaknya untuk ikut bekerja mencuci baju ke tetangga rumah yang kebetulan sudah ia anggap orangtuanya sendiri.
            Setiap pagi seusai shalat subuh, Risma akan pergi ke pasar untuk menjual kue buatan tetangganya. Setelah pulang dari pasar, ia pun langsung mencuci pakaian para tetangga lainnya yang memang sudah menjadi langganannya lalu menyetrika pakaian yang telah kering. Tak ada raut wajah lelah terlihat. Risma tampak begitu bersemangat bekerja. Apalagi jika Rumi menyambutnya setiap kali ia pulang kerumah. Sekedar meminta kue yang tak laku atau minta digendong. Rumi menjadi api yang membakar semangat Risma untuk  bekerja keras.
            Setiap sore seusai ashar, Risma juga ikut membantu tetangganya yang berjualan baju di stasiun kereta. Biasanya Rumi akan ikut jika ia berjualan baju, karena Risma akan pulang larut malam, kadang hingga jam 10 sampai di rumah. Rumi pun seakan mengerti dan tak membuat Ibunya merasa kerepotan atau terbebani. Ia akan diam menunggu Ibunya sambil bermain dengan anak-anak lain yang ada di stasiun. Ia tak pernah meminta dibelikan mainan sebagaimana anak-anak yang lain.
            Setiap malam, sebelum tidur biasanya ia juga akan mendongengkan cerita kepada Rumi yang ditutup dengan nyanyian Kasih Ibu. Rumi yang tertidur pulas memeluknya dan itulah kebahagiaan yang benar-benar mampu membuat Risma terus bertahan menghadapi kehidupan yang keras ini.
            Satu hal yang masih membuat Risma bingung adalah bagaimana jika kelak Rumi menanyakan tentang ayahnya.Risma belum bisa berterus terang jika Ayahnya tak bisa bersama Ibunya, namun ia juga tak ingin Rumi menyimpan benci apalagi dendam kepada Ayahnya. Satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan hanya mengatakan jika Ayahnya Rumi sudah meninggal dunia saat bekerja di laut. Meski pahit, tapi mungkin itu jalan yang terbaik yang bisa ia katakan.
            Hari-harinya makin berwarna. Risma suka sekali setiap ia bermain dengan Rumi. Tingkah Rumi yang polos membuatnya mampu tertawa, atau bahkan Rumi yang selalu menanyakan sesuatu hal membuatnya terpaksa harus berpikir keras menjawabnya.
            Rumi yang memasuki usia 6 tahun semakin mengerti bahwa ia memiliki sosok ibu yang luar biasa. Ia selalu memerhatikan bagaimana ibunya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.Rumi mulai mencoba untuk membantu pekerjaan ibunya agar tak terlalu berat, namun usahanya itu justru membawa kesalahan yang membuat ibunya dimaki orang.
            Suatu hari, setelah Ibunya berangkat menjual kue di pasar, Rumi kemudian ingin membantu Ibunya menyiapkan pakaian-pakaian yang akan dicuci. Satu-persatu pakaian kotor itu ia masukann kedalam bak besar dikamar mandi dan kemudian ia masukan detergen. Ia berharap Ibunya akan tersenyum melihat kesungguhannya untuk membantu. Dan ternyata ada dua buah kemeja berwarna putih terlihat ada bercak hitam karena kelunturuan dari pakaian lainnya.  Namun, sikap Ibunya malah membuatnya makin menghargai dan menyayanginya.
            Menginjak usia sekolah, Risma pun menyekolahkan Rumi disebuah sekolah negeri yang tak terlalu mahal. Pintu rezeki seakan mudah terbuka untuknya, ada saja pesanan atau jualan kue dan bajunya laku hingga Rumi bisa sekolah dengan baik. Suatu hari, seusai Rumi pulang sekolah, Risma membawanya ikut bekerja menjual baju di stasiun. Sesampai di stasiun, mereka berjalan melewati beberapa toko perhiasan, Risma berhenti dan memandang sebuah liontin berbandul bulan sabit.Nmun, ia segera beranjak pergi. Melihat itu, Rumi bertanya apakah ibunya menyukai liontin itu yang dibalas dengan sebuah senyuman. Rumi bertekad membelikan ibunya liontin sebagai hadiah ulang tahun ibunya suatu hari kelak. Ya, tiga bulan lagi Ibunya akan ulang tahun. Rumi pun mulai menabung dan mengumpulkan uang jajan, serta uang transport ke sekolahnya. Berbagai cara ia lakukan agar ia bisa membelikan dan mengasihkan liontin itu pada hari ulang tahun Ibunya nanti.
            Setelah mengumpulkan uang yang dirasa cukup, Rumi pun pergi ke stasiun diantar Mang Soleh. Risma memang meminta Mang Soleh mengantar baju sekaligus menjemput Rumi di rumah untuk diantar ke stasiun. Sepanjang perjalanan, Rumi tersenyum senang. Sesampai di stasiun ia segera berlalri ke toko perhiasan yang waktu itu ia datangi bersama ibunya.
            Rumi terdiam sejenak. Ia hanya berhasil mengumpulkan uang sebanyak tiga ratus lima pukuh ribu selama hampir tiga bulan. Namun, ada seorang bapak berkacamata bertanya ke pada Penjaga toko itu. Rumi yang mendengar itu langsung merasa takut bandul untuk Ibunya dibeli oleh lelaki gemuk yang berdiri disampingnya. Tak lama kemudian penjaga toko memberikan kalung dan bandul lengkap dengan surat-suratnya kepada lelaki itu. Seusai menerimanya, lelaki gendut berkacamata itu justru meminta Rumi menerimanya.
Tepat di hari ulang tahun Risma, malam itu Rumi sengaja menunggu Ibunya pulang menjual baju di stasiun. Biasanya ia sudah tertidur lelap. Pintu rumah terdengar dibuka, Rumi pun keluar kamar untuk menyambut Ibunya.
Risma membuka kotak perhiasan itu, seuntai liontin dan bandul bulan sabit. Risma mengernyitkan keningnya, bandul itu sama persis dengan yang ia inginkan, meski kalungya berbeda. Ia lalu memandang Rumi dalam-dalam.
Mendengar perkataan Ibunya, Rumi perlahan meneteskan air mata. Ia menangis memeluk Ibunya. Rumi pun menceritakan bagaimana ia mengumpulkan uang transport dan uang jajannya setiap hari, hingga kejadian di toko perhiasan. Mendengar cerita itu, Risma makin tak sanggup menahan tangisnya. Ia memeluk Rumi lalu ikut menangis.Kebahagiaan yang luar biasa yang tak pernah ia dapatkan tiba-tiba menyeruak hadir dalam hidupnya.
Di lain pihak, Andre yang sudah menikah lagi dengan Rieska yang dipilih oleh orangtuanya belum memiliki keturunan. Rieska divonis mandul oleh dokter. Mendengar kenyataan itu ibu Andre sangat terpukul. Orang tua Andre sangat khawatir jika kelak semua harta kekayaan itu pada akhirnya diberikan pada orang yang tak berhak. Andre sebagai anak satu-satunya ternyata tak memilik keturunan. Rieska yang merasa dipojokkan karena dialah yang divonis mandul oleh dokter hanya diam saja.
Keesokan malamnya Andre pun mengingatkan pada orang tua tentang Risma yang dulu mengandung anaknya. Sejak malam itu, kesibukan mereka hanya mencari tahu keberadaan Risma. Tak kenal menyerah Ibu Andre mengerahkan beberapa orang yang ditugaskan khusus untuk mencari Risma. Setelah beberapa hari, keberadaan Risma pun telah diketahui. Dan Ibu Andre pun besok akan menemui Risma dan anaknya itu.
Siang itu Rumi baru saja pulang dari sekolah. Tepat di gerbang sekolah, seorang nenek yang sudah berumur, menghampirinya. Kemudian menanyakan dimana tempat tinggalnya. Seorang nenek itu pun hendak berniat ingin mengantarkan Rumi pulang.Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah. Rumi mepersilakan nenek itu masuk kedalam rumah, lalu menawarinya minum. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Risma pun datang dan langsung menyalaminya. Dan ternyata, ya, itu Ibunya Andre.
Ibunya Andre lalu menceritakan semua yang terjadi mulai dari Risma menuruti sarannya, pernikahan Andre dengan Rieska hingga kemudian mereka memutuskan mencari Risma kembali. Risma mendengarkan semua cerita itu dengan seksama. Ada kerinduan untuk melihat Andre sekarang. Namun ia sadar statusnya. Satu hal yang sangat menyakitkan adalah saat Ibunya Andre kembali memintanya untuk mengizinkan Rumi ikut dengan mereka.
Risma terdiam. Entah kenapa setiap kali ia berbincang dengan Ibunya Andre seakan tidak ada daya untuk menolaknya. Di satu sisi, ia memang tak pernah ingin sedetik pun lepas dari Rumi. Di sisi lain ia juga sadar bahwa kehidupan Rumi akan jauh lebih baik jika dirawat oleh keluarganya Andre.
Ibu Andre pun setuju lalu berpamitan pulang. Kali ini sikap Ibu Andre sangat sopan, berbeda dengan waktu itu. Malam itu, Risma tak bisa tidur. Ia memeluk, menciumi, dan memandangi Rumi. Tiada lagi kebahagiaan dalam hidupnya selain anak tampan itu.Tapi haruskah ia kehilangan untuk kedua kalinya? Haruskah ia kembali menyerah pada keadaan? Ia masih sangat ingat bagaimana janji yang diucapkan, ada sedikit rasa iba yang muncul dalam benaknya. Sembilan tahun berlalu, dan kini rasa sakit itu kembali lagi hadir.
Keesokan harinya Risma pun membicarakannya dan menjelaskannnya kepada Rumi. Namun, Rumi pun menolak. Tetapi Risma pun terus memberikan pemahaman pada Rumi agar ia mau ikut dengan Ibu Andre, nenek kandungnya. Sehari sebelum hari itu, akhirnya Rumi pun menuruti keinginan Ibunya dengan janji bahwa Ibunya akan menemumuinya setiap minggu.
Seminggu setelah pertemuan pertama dengan Ibunya Andre, hari itu Risma sengaja tidak berjualan. Ia menunggu kedatangan Ibunya Andre yang akan menjemput Rumi. Tepat seusai ashar, Ibunya Andre datang dengan bersama seorang sopir. Risma pun menjelaskan semua kebiasaan Rumi pada Ibunya Andre.
Risma menahan air matanya agar Rumi tidak ragu dan bimbang lagi walau dalam hatinya ia menangis dan meronta. Ya, ini sudah menjadi keputusannya. Rumi layak mendapatkan haknya, ia layak hidup bahagia. Pelukan terakhir tanda perpisahan Rumi dan Ibunya. Mobil sedan itu melaju kencang di jalan lalu menghilang.
Andre sangat ingin melihat Rumi, anak kandungnya yang selama ini hampir ia lupakan. Mobil sedan itu pun memasuki rumah mewah. Andre tampak sudah berdiri untuk menyambut. Ternyata Rumi pun tertidur pulas sekali. Andre segera meraih Rumi yang tertidur, lalu membopongnya masuk kedalam rumah disusul kemudian oleh Ibunya Andre. Tak seperti biasanya, Andre pagi-pagi sekali sudah terbangun. Ia pun segera beranjak menuju kamar tidurnya sekedar ingin melihat Rumi. Andre hanya melihatnya sebentar, ia mencoba mencium kening Rumi, tapi takut anak itu terbangun.
Tak lama, Rumi pun bangun. Mendengar suara Rumi yang memanggil-manggil Ibunya. Ibunya Andre segera menemui Rumi dan menenangkannya, lalu mengajak turun untuk berkenalan dengan Kakek dan Paman. Andre yang masih takjub  dan tak menyangka akan bisa sedekat itu dengan anak kandungnya mencoba menawarkan air minum. Setelah  sarapan Rumi pun dimandikan oleh seorang pembantu perempuan dan dipakaikan baju. Setelah selesai Rumi pun diajak bermain oleh Paman Andre.
Dua hari kemudian, Andre mengantarkan Rumi ke sekolah yang baru. Sekolah bertaraf Internasional yang memiliki semua fasilitas pendidikan dengan baik. Rumi terlihat kagum dengan sekolah barunya. Dalam diri Rumi, ia melihat hal yang sama seperti dirinya saat kecil. Tak lama ada sebuah telepon. Ya, itu Rieska istrinya Andre. Rieska meminta cerai dan dia sudah mengurus peerceraiannya itu di Pengadilan dan sudah mengutus seorang Pengacara untuk mengurusnya.
Denting bel pulanag terdengar nyaring berbunyi. Sepanjang perjalanan pulang, Rumi bercerita banyak tentang sekolah dan teman-teman barunya. Andre tersenyum bahagia mengedengar itu. Dan setiap hari, Andre selalu mengantar Rumi ke sekolah hingga seminggu penuh. Di akhir pekan, seusai pulang sekolah, Rumi tampak bersemangat sekali. Ia lalu menagih janji Ibunya yang akan datang menemuinya di Surabaya.
Minggu berlalu. Rumi masih sabar menunggu kedatangan Ibunya ke Surabaya. Ia terus bersemangat sekolah agar saat Ibunya tiba ia bisa menunjukkan bahwa ia pun sama-sama berjuang seperti Ibunya yang berada di Malang. Di sela, kerinduannya, Rumi menulis buku harian tentang kerinduannya pada sosok ibu.
Hari-hari berlalu dengan sempurna. Rumi tumbuh besar dan kini sudah masuk ke SMP. Ia diterima masuk sekolah favorit di kota Surabaya. Risma yang mendengar kabar ini pun sujud syukur karena Rumi melewati ujian pertamanya dengan baik, meski ia tak ada di sampingnya. Kehidupan pernikahan Andre yang tak bisa diselamatkan lagi membuatnya bercerai dari Rieska. Perceraian itu sangat memengaruhi kesehatan Ayah Andre yang terkena storke.
Suatu hari, sepulang sekolah Rumi mendengar kabar bahwa Kakek yang menderita stroke dibawa ke rumah sakit. Rumi pun langsung menyusul ke rumah sakit dengan Pak Ujang. Rumi lalu melihat keadaan Kakek yang penuh selang infus, dengan lembut ia megusap lengan Kakek yang terbaring lemah. Keadaan Ayah Andre memburuk setiap hari. Andre dan Ibunya memutuskan untuk merawat Ayah Andre di Singapura. Namun, tepat sehari sebelum keberangkatan mereka, Ayah Andre meninggal dunia. Suasana duka menyelimuti seisi rumah. Rumi yang sebetulnya kurang akrab pun merasa kehilangan karena kadang Kakeklah yang selalu memintanya merawat kelinci-kelinci putih itu.
Sudah hampir setahun lebih Rumi tak mendengar keadaan Ibunya. Rumi sudah naik kelas.Suatu hari, Rumi tak sanggup menahan rasa rindunya, ia pun mencari ibunya ke rumah dimana mereka tinggal tepat di hari ulang tahun Ibunya. Namun, rumah itu kosong. Rumi mencoba bertanya kepada tetatngganya, semua menjawab tidak tahu. Rumi panik, ia terus mencari Ibunya ke pasar hingga ke stasiun namun semuanya sama, tidak ada yang tahu keberadaan Ibunya.
Kepergian Rumi selama dua hari itu membuat Andre dan Ibunya sangat panik. Mereka mencari Rumi di sekolah dan sekitar komplek. Setalah mencari kesana-kemari dan tak ada yang menemukan hasil, mereka pun yakin Rumi pergi ke Malang untuk menemui Ibunya. Andre dan Ibunya pun segera pergi ke Malang untuk mencari Rumi. Di perjalanan, ia menelepon Risma. Ibunya Andre pun menanyakan apakah Rumi sedang bersamanya, tetapi Risma tidak sedang bersama Rumi. Sudah seminggu, ia dirumah kerabatnya. Risma pun menyuruh Ibunya Andre untuk mencari Rumi ke pasar atau stasiun. Namun, ternyata Rumi pun tak ada disana. Langit pun mulai gelap, Ibunya Andre pun menelepon Risma kembali untuk menanyakan apakah ada tempat lain yang biasa dikunjungi Risma dan Rumi dulu.Risma begitu mengingatnya ia sering mengajak Rumi ke mushola kecil sebelum ke arah stasiun untuk berdoa. Ya, mushola itu juga tempat kesukaan Rumi saat masih kecil.
Ibunya Andre lalu meminta Pak Ujang menjalankan mobil dan mencari mushola kecil di pinggir jalan. Pak Ujang menepikan mobilnya di tepi jalan, tepat disamping mushola yang bercat dinding hijau kusam. Mereka pun lamgsung masuk kedalam dan mencari Rumi. Andre menuju pintu mushola yang terbuat dari kayu bercat hijau. Ia lalu membuka pintu itu pelan-pelan, ternyata tak terkunci. Begitu pintu terbuka, ia melihat seorang anak yang sedang tertidur meringkung dipojok mushola bagian dalam. Anak itu kelihatan sangat lemah, ia meringkuk tertidur sambil memegangi perutnya. Ya, anak itu adalaha Rumi. Ibu Andre dan Pak Ujang yang mendengar Andre menyebut Rumi langsung masuk kedalam mushola. Rumi terbangun begitu mendengar ada suara orang masuk kedalam mushola. Ia tampak kaget. Andre langsung memeluknya dengan erat, Rumi membalas pelukan itu lalu menangis.
Setelah Rumi tenang, mereka pun mencoba mengajak Rumi pulang. Namun Rumi bersikeras menemui Ibunya. Sementara itu, disebuah jalan terjadi kecelakaan antara mobil angkutan umum yang bertabrakan dengan bus yang melaju kencang. Risma yang luka berat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan serius. Di rumah sakit, Risma berhasil melewati masa kritis namun akibat pecahan kaca yang mengenai kedua matanya, ia diperkirakan akan mengalami kebutaan.
Rumi terlihat gelisah, begitu juga Andre yang tak henti menatap Ibunya, berharap ada kabar dari Risma. Di rumah itu mereka menunggu hingga jam sepuluh malam. Andre mencoba meyakinkan Rumi bahwa ibunya mungkin sedang berpergian jadi percuma nunggu terus. Rumi melihat ke Ibu Andre yang terlihat letih bersandar di kursi yang ada di depan rumah Risma. Rumi pun mengangguk dan memutuskan kembali ke Surabaya malam itu juga.
Waktu berlalu, sejak kejadian di Malang itu Rumi akhirnya kembali bersekolah. Rumi tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan pintar. Kini, Ia bahkan sudah memasuki kelas tiga SMA dan sebentar lagi akan ujian. Namun, selama beberapa tahun itu ia masih sering mencari tahu keberadaan ibunya yang seakan hilang ditelan bumi. Pencariannya akan sosok ibu kadang sering dilakukan diam-diam, namun seakan buntu karena tak ada satu pun petunjuk tenatang ibunya.
Pendaftaran mahasiswa baru selalu menjadi peristiwa yang ditunggu. Setiap universitas menawarkan program-program yang menggiurkan. Ibu Andre menawarkan kepada Rumi, jika ia ingin kuliah di luar negeri, namun Rumi dengan tegas mengatakan ingin kuliah di kota Malang, tempat ia lahir.
Pilihan Rumi jatuh ke sebuah universitas terkenal di Malang yang populer disebut Kampus Biru. Di sana ia mengambil Fakultas Kedokteran, sama seperti Andre juga sesuai dengan cita-citanya sebagai dokter. Bahkan Andre sendiri yang mengantar Rumi ke Kampus Biru itu. Ada kenangan yang ingin Andre temui di kampus itu.
Beberapa minggu kemudian, Rumi dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru. Keinginannya untuk kuliah di kota Malang terwujud. Sebenarnya, selain karena impiannya, ia pun sengaja memilih kota Malang karena berharap masih dapat menemukan ibunya.
Diam-diam Rumi dijodohkan dengan seorang gadis cantik anak pengusaha terkenal dari Jakarta. Kirana, seorang model yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan Kraton Jawa. Hubungan keluarga Andre dengan pengusaha itu cukup baik, bahkan sejak dulu pun sebenarnya Andre akan dijodohkan dengan salah satu kerabat pengusaha itu, namun pilihan jatuh ke Rieska.
Suatu hari, Rumi pun dikenalkan kepada Kirana. Semenjak perkenalan itu Kirana sering sekali menelepon Rumi. Telepon berdering lagi, kali ini Rumi tak mengangkatnya. Ia terus memacu mobilnya melewati keramaian hingga sampai di perempatan lampu merah. Rumi melihat seorang pemgemis wanita buta. Rumi memacu mobilnya dengan pelan begitu mendekati pengemis wanita yang buta itu. Rumi membuka kaca jendela mobilnya, ia ingin  melihat jelas wajah pengemis buta itu. Terlihat jelas wajah pengemis itu yang sudah rapuh dimakan usia. Namun ada kecantikan yang terpancar dari wajahnya yang lusuh itu. Sayup kemudian terdengar suara nyanyian.
            Kasih Ibu…sepanjang jalan
            Tak terkira selama-lamanya
            Kasih Ibu…
            Ya, lagu Kasih Ibu! Sudah lama sekali ia tak mendengar lagu itu. Tapi, siapa yang menyanyikan lagu itu?
            Toottttt!!!
            Tiba-tiba terdengar suara  klakson dari mobil di belakangnya. Rumi pun menutup pintu kaca jendela mobil lalu mengemudikan mobilnya, kembali ke kontrakannya. Sepanjang jalan, ingatan tentang ibunya kembali hadir. Apalagi setelah ia mendengar sayup-sayup nyanyian Kasih Ibu, lagu yang dulu selalu ia nyanyikan bersama ibunya saat hendak tidur.
            Sejak perjodohan itu Ibu Andre sering sekali menyuruh Rumi untuk mengantar atau menemani Kirana. Ibu Andre menelepon Rumi, tetapi Rumi mematikan teleponnya Ia merasa kembali suntuk, penat yang sebenarnya tak harus ia rasakan. Rumi kemudian melewati beberapa perempatan, sampai pada perempatan lampu merah tempat pengemis buta itu berada. Entah kenapa ada keinginan dalam hatinya untuk ke tempat itu. Wajah pengemis itu terlihat lusuh terbakar matahari. Pakaiannya yang kumal semakin membuat penampilan pengemis itu terlihat menyedihkan. Rumi mengamati penegemis yang terlihat sangat sabar menunggu kebaikan orang yang melintas di jalan. Rasa iba sekaligus penasaran hadir di hati Rumi. Ia terus saja memerhatikan pengemis buta itu hingga matahari mulai condong ke barat. Ketika pengemis itu hendak pergi, Rumi pun segera menyebrang jalan untuk membantunya berdiri.
            Rumi memberikan tongkat kepada pengemis itu lalu terus mengawasinya hingga masuk kedalam gang kecil yang berada tak jauh dari perempatan. Seperti ada rasa lega ketika Rumi membantu pengemis buta itu.
            Suatu hari, Ibunya Andre menelepon  Rumi dan meminta Rumi untuk menemui Kirana di Vila Batu. Namun, Rumi tak mau, tetapi Ibu andre memaksa dan karena kesal kepada Rumi telepon pun dimatikan. Rumi pun merasa kesal. Rumi yang merasa hidupnya selalu diatur lalu memutuskan tak pergi ke Vila Batu. Ia lebih suka diam di rumah kontrakan atau keliling kota Malang sekedar menenangkan pikiran. Tiba-tiba pikirannya teringat pengemis yang di lampu merah. Rumi pun memacu mobilnya ke tempat itu.
            Sayup ia mendengar pengemis buta itu sedang menyanyikan lagu “Kasih Ibu” yang biasa dulu ia nyanyikan bersama ibunya. Ada getaran hebat dalam hati Rumi. Suara itu sangat ia hafal. Ya, suara ibunya! Tapi, apa mungkin pengemis itu ibunya? Rumi seakan mendengar bahwa ibunya masih hidup, sedang menyanyikan lagu itu untuknya. Nyanyian  itu ia ikuti liriknya dengan suara lirih. Rumi mengamati wajah pengemis buta itu dengan seksama. Mirip sekali dengan ibunya! Kenapa ia baru menyadari sekarang? Hampir tiga hari Rumi selalu mengikuti pengemis itu, bahkan hingga ke rumahnya, sebuah gubug kecil yang reyot.
            Rumi berpura-pura menanyakan alamat kepada pengemis itu, alamat stasiun kereta. Pengemis itu dengan lancar memberitahukan alamat stasiun kereta dengan jelas. Ia yakin pengemis itu ibunya, tapi bagaimana membuktikannya. Akhirnya, Rumi pun tahu bahwa pengemis itu ibunya dari sebuah liontin yang dulu ia berikan saat masih anak-anak. Rumi tak kuasa manahan haru, ingin segera dipeluknya perempuan tua yang duduk didepannya itu.
            Pengemis buta yang ternyata Risma itu terdiam. Nampak memikirkan sesuatu, terlihat dari kedua bola matanya yang bergerak meski sudah tak mampu lagi melihat.
            Rumi pun menawarkan ibunya agar ikut bersamanya.Sebenarnya, Risma ingin tinggal bersama Rumi. Namun, ia juga menyadari kondisinya yang kini sudah rapuh dan buta. Ia tak ingin hidupnya menyengsarakan Rumi. Baginya, bertemu kembali dengan Rumi dan mengetahui bahwa anaknya sudah besar dan meraih cita-citanya sudah menjadi kebahagiaan yang tak akan terbayar oleh apa pun.
            Tiba-tiba Risma batuk. Ia memegangi dadanya, ada raut kesakitan yang jelas terlihat diwajahnya. Rumi mengajak Ibunya untuk ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan di rumah sakit akhirnya diketahui bahwa Risma menderita penyakit TBC yang sudah akut. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan makin memperburuk penyakitnya. Rumi pun makin kuat keinginannya untuk segera membawa ibunya agar tinggal di rumah kontrakannya. Rumi berhasil membujuk ibunya untuk tinggal bersamanya.
            Keesokan harinya Rumi berpamitan kepada Ibunya untuk pergi agak lama. Rumi akan mengantarkan Kirana ke Surabaya. Setelah sampai di rumah di Surabaya. Kirana pun meminta izin untuk pulang karena sudah tidak betah dengan tingkah Rumi yang begitu cuek. Di ruang tengah, Rumi duduk di samping Andre, sementara Ibu Andre masih memperlihatkan wajah kesalnya. Entah kenapa justru Rumi seakan memiliki keberanian untuk mengungkapkan bahwa ia bertemu dengan ibunya. Namun, sebelum ia mengatakan itu, Ibu Andre sudah menceramahinya tentang perjodohan. Perselisihan itupun terus terjadi hingga Rumi akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga Soemoatmojo.
            Rumi sampai di rumah kontrakannya setelah Isya. Ia sempat membelikan beberapa lauk untuk makan ibunya. Keputusan Rumi yang melepas semua warisannya membuat kalang kabut keluarga Andre. Mereka terus membujuk Rumi, tetapi Rumi tetap tak mau. Setiap hari, Rumi terus menemani ibunya. Karena terbiasa menggunakan mobil, Rumi pun kembali merasakan bagaimana panasnya terik matahari saat harus berjalan kaki dari satu perusahaan ke perusahaan untuk mencari kerja. Ia melakukan semua itu dengan hati yang senang, tak sedikit pun ia menyesal melepas semua pemberian keluarga Soemoatmojo.
            Saat pulang ke rumah seusai mencari pekerjaan, Rumi melihat mobil yang sudah ia kenal baik di halaman rumah kontrakannya. Ia pun langsung masuk dan mendapati ibunya tengah berbincang dengan Paman Andre. Ibunya pun menceritakan semuanya, bahwa yang selama ini ia sebut paman itu adalah Ayahnya. Namun, Rumi tetap tak percaya dengan semua itu, Rumi pun menyuruh Paman Andre yang sebenarnya Ayahnya untuk pulang kembali ke Surabaya.
            Selepas Andre pulang, Risma kemudian mencoba menjelaskan kepada Rumi tentang cerita yang sebenarnya. Cerita ibunya itu membuat Rumi merasakan marah sekaligus sedih. Orang yang selama ini ia anggap Paman, ternyata adalah Ayah kandungnya, Meski merasa benci, namun pada akhirnya Rumi pun menerima penjelasan dari ibunya juga kenyataan bahwa ia memang anak dari Paman Andre.
            Tiba-tiba Risma batuk, bercak darah kemudian terlihat di telapak tangannya. Rumi yang tak mau mengambil resiko segera membawa ibunya ke rumah sakit. Risma dibawa ke unit gawat darurat untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Keesokan harinya, Andre yang sudah berbicara tentang Rumi dan Risma kepada Ibunya terlihat gelisah. Ibunya tetap meminta Andre mengambil Rumi kembali ke rumah Surabaya. Ibu Andre dan Andre yang diantar Pak Ujang pun langsung menuju ke Malang untuk menemui Rumi. Namun dirumah kontrakan Andre tak menemukan siapapun. Tetangganya bilang bahwa Rumi pergi ke rumah sakit sambil menggendong Ibunya. Andre dan Ibunya pun langsung menuju ke rumah sakit. Di dalam kamar perawatan, Rumi tampak gelisah.
            Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk. Lalu masuk Andre dan Ibunya. Rumi yang melihat itu tampak kaget, Rumi pun menemui Andre dan Neneknya yang ikut masuk kedalam ruangan. Ibu Andre yang sejak semula bersikukuh mengambil Rumi kembali, tiba-tiba merasa sangat bersalah setelah melihat keadaan Risma yang di tubuhnya penuh alat dokter. Ia pun meminta Rumi membantunya mendekat ke Risma. Rumi mendorong kursi roda agar lebih dekat ke ranjang tempat ibunya berbaring. Ibunya Andre pun meminta maaf kepada Risma dan Rumi.
            Setelah menunggu Risma hingga sore hari, Ibu Andre memutuskan kembali ke Surabaya karena ia merasa semua keputusan sudah ada. Ia pun menerima keinginan Rumi yang ingin bersama dengan ibunya. Sementara Andre meminta waktu untuk menemani Rumi dan Risma di rumah sakit. Ibu Andre pun pulang ke Surabaya diantar Pak Ujang.
            Tepat pukul sepuluh malam, tiba-tiba Risma menggerakan jemarinya. Sejak siang tadi, kondisinya memang menurun bahkan alat deteksi jantung menunjukkan jantung Risma sudah lemah sekali. Melihat tangan Ibunya bergerak, Rumi segera menuju samping tempat ia tidur. Ia lalu menggengam tangan kanan ibunya.
            Kelopak mata ibunya terlihat bergerak-gerak. Jemari tangannya pun membalas genggaman tangan Rumi. Andre kemudian ikut duduk di sisi sebelahnya, ia menangis melihat keadaan Risma. Namun, ia pun mencoba terlihat tegar didepan anaknya, Rumi. Andre yang kembali bertemu dengan Risma tak kuasa menahan sesalnya. Ia pun sudah memutuskan untuk berkumpul bersama anak dan perempuan yang masih sangat dicintainya itu.
            Risma kemudian menggerakkan kembali tanganya seakan ingin memeluk. Rumi mengecup kening ibunya lalu mengusap airmata ibunya yang menetes di pipi.
            Mendengar itu, Andre segera mendekatkan dirinya. Ia lalu mengusap kening Risma dan menggenggam erat jemari tangan kiri Risma. Ia merasa tangan itu pun membalas genggamannya.
            Tak lama kemudian, genggaman tangan ibunya terasa mengendur. Rumi yang merasakan itu segera melihat monitor detak jantung yang ternyata sudah tak menunjukkan detak jantung ibunya. Rumi menangis dan memeluk ibunya, sementara Andre mengusap rambut Rumi dan menggenggam erat jemari Risma. Malam itu Risma menghembuskan nafas terakhirnya bersama orang-orang yang dicintai.





Nama         : Fadlia Rahman
Kelas          : XI IPA 2







Selasa, 05 Juni 2012

TRUE FRIEND ( o. ˘)з┌◦◦◦♥

Friend  gives you smile
But true friend gives you happines

 Friend will lie about you
 But true friend won't tell your weakness

Friend knives your back
But true friend will protect your face

Thousand friends come when you are happy
But only one true friend comes when you cry

Friend comes when he needs you
But true friend comes when you needs

Friend leaves when every body does
But true friend comes when every body leaves

Friend comes and leaves
but true friend is yours FOREVER.

Sabtu, 02 Juni 2012

KEUTAMAAN HAFIZ DAN HAFIZAH ATAU PENGHAFAL QURAN

Allah telah menjanjikan kelebihan kepada mereka yang menghafal al Quran seperti yang digambarkan di bawah.
1.MEREKA ADALAH KELUARGA ALLAH SWT.
Sabda Rasulullah s.a.w:
"Daripada Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia." Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: "Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.
2.DI TEMPATKAN SYURGA YANG PALING TINGGI
Sabda rasulullah s.a.w:
"Daripada Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, "Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca."
3.AHLI AL QURAN ADALAH ORANG YANG ARIF DI SYURGA
Sabda rasulullah s.a.w "Daripada Anas ra. Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; "Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni syurga,"
4.MENGHORMATI ORANG YANG MENGHAFAL AL QURAN BERERTI MENGAGUNGKAN ALLAH SWT.
Sabda rasulullah s..a.w  "Daripada Abu Musa Al Asya'ari ra.ia berkata bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Quran tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil."
5.HATI PENGHAFAL AL-QURAN TIDAK DI SEKSA
Sabda rasulullah s.a.w.
" DaripadaAbdullah Bin Mas'ud ra. Daripada nabi s.a.w. baginda bersabda: " bacalah Al Quran kerana Allah tidak akan menyeksa hati orang yang hafal al-quran.
Sesungguhanya Al -Quran ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Quran maka hendaklah ia bergembira."
6.MEREKA LEBIH BERHAK MENJADI IMAM DALAM SOLAT
Sabda rasulullah s.a.w. :
"DaripadaIbnu Mas'ud ra. Dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al Quran."
7.DISAYANGI RASULULLAH S.A.W
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Jabir Bin Abdullah ra. Bahawa nabi s.a.w menyatukan dua orang daripada orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad.
Kemudian nabi s.a.w. bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Quran?" apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka nabi s.a.w memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad."
8.DAPAT MEMBERIKAN SYAFAAT KEPADA KELUARGA
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, "Barangsiapamembaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."
9.PENGHAFAL AL QURAN AKAN MEMAKAI MAHKOTA KEHORMATAN
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Abu Hurairah ra.daripada nabi s.a.w. baginda bersabda: "orang yang hafal Al Quran nanti pada hari kiamatnanti akan datang dan Al Quran akan berkata; "Wahai Tuhan ,pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru." Maka orang tersebut di berikan mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi:
"Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya." Maka orang itu di beri pakaian kehormatannya. Al Quran lalu berkata lagi, "Wahai Tuhan, redailah dia." Maka kepadanya di katakan; "Bacalah dan naiklah." Dan untuk setiap ayat, ia di beri tambahan satu kebajikan."
10.HAFAL AL QURAN MERUPAKAN BEKALAN PALING BAIK.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada jabir bin nufair, katanya rasulullah s.a.w. bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal daripada-Nya iaitu Al Quran.
11.ORANG TUA MEMPEROLEHI PAHALA KHUSUS JIKA ANAKNYA PENGHAFAL AL QURAN.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?".
Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Quran berkata; "saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Quran."
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)
12.AKAN MENEPATI KELAS TERTINGGI DI DALAM SYURGA.
Sabda rasulullah s.a.w.:
"Daripada Sisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan syurga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.Semoga kita termasuk kedalam golongan tersebut AMIN :)

Selasa, 08 Mei 2012

SURAT KECIL UNTUK TUHAN


Novel Surat kecil untuk Tuhan (True story of Gitta Sessa Wanda Cantika)

Adalah sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata keke, seorang gadis remaja Indonesia yang telah meninggal tahun 2008 karena kanker ganas. Buku ini terjual lebih dari 50.000 exp, tahun 2011 telah diadaptasi ke layar lebar. Kisah Keke pernah di ulas dalam acara kick Andy dan ribuan air mata telah berjatuhan setelah membaca kisahnya.

(Buku ini bisa didapatkan di seluruh toko buku di indonesia dengan harga 38.800 (bonus cd), sebagian penjualan buku akan disumbangkan ke yayasan kanker. Filmnya akan ditayangkan pada 7 Juli 2011)

Hai Sobat, namaku Keke. Umurku 13 tahun ketika aku divonis mengalami penyakit kanker ganas bernama Rabdomiosarkoma, sulit bagiku untuk mengerti penyakit apa yang menyerang bagian wajahku itu bahkan untuk menyebut ulang nama penyakit itu, aku sangat kesulitan. Dokter bilang aku terkena kanker jaringan lunak yang sangat langkah dan menjadi orang pertama di Indonesia yang mengalami penyakit itu.

Aku sedih ketika ayahku menangis menolak permintaan dokter untuk melakukan operasi di wajahku. Dokter bilang: bila aku tidak melakukan operasi, maka hidupku tidak akan bertahan lama lebih dari 3 bulan. Aku sangat terkejut, karena penyakit itu tidak memiliki tanda-tanda apapun selain aku mengalami sakit mata yang diikuti dengan mimisan yang terjadi selama seminggu. Kanker itu hanya seukuran kuku jariku dan bersarang di bagian pelipis mataku, tapi operasi itu mengharuskan aku kehilangan sebagian wajah kiri dan mataku.

Ayahku tentu tidak akan rela aku kehilangan bagian wajahku karena aku adalah seorang anak gadis yang akan tumbuh dewasa bagaimanapun kelak. Aku tidak pernah paham seberapa menakutkan penyakit itu hingga aku merasakan sendiri bagian wajahku mulai membengkak sebesar bola tenis dan buta. Ketika aku menangis merasakan kesakitan, ayahku tidak pernah mau jujur mengatakan penyakit itu. Hingga akhirnya aku berjuang hidup selama 3 bulan mencari pengobatan tradisional dan seseorang ulama mengatakan padaku aku terserang kanker.

Perasaanku saat itu sangat hancur, aku tau hidupku tidak akan lama lagi dengan keadaan buta dan kehilangan pernafasan hidung sebelah kiriku. Aku menangis dan protes kepada Tuhan, mengapa ia tega merenggut masa remajaku dan kesempatanku untuk menjadi penyanyi dan model. Air mata yang berjatuhan setiap harinya tak pernah kulewatkan ketika rasa sakit kanker itu datang. Walau demikian aku sungguh beruntung, sahabat-sahabatku, keluargaku dan kekasihku selalu ada disampingku untuk memberikan dukungan tanpa henti.

Ketika aku mulai pasrah Tuhan menjemputku, Aku hanya berdoa berharap kepada Tuhan agar ia memberikan aku waktu lebih lama di dunia ini untuk mengucapkan selama berpisah dengan sahabat, kekasihku dan terutama untuk membuat ayahku bahagia lebih lama.Disaat itu aku tidak mampu berdiri dan mengalami kritis. Tuhan mendengar doaku, disaat itulah aku mendapatkan sebuah mujizat, seorang dokter menyelamatkanku dari penyakit itu disaat-saat terakhir hidupku. aku sembuh dan kanker diwajahku menghilang secara ajaib.

Aku merasakan kebaikan tuhan padaku dan melawan vonis kematian yang dikatakan dokter padaku, aku pun berjanji padanya mulai saat itu untuk bersyukur akan kehidupan yang ia berikan padaku. Usai penyakit itu hilang dalam hidupku, Aku melewatkan hari-hariku dengan bahagia bersama keluarga dan teman-temanku, aku menghabiskan waktuku dengan belajar kitab suci dan mendekatkan diriku pada Tuhan. Hidup-hidupku pun berlalu dengan bahagia walaupun pada akhirnya hal yang tak kuharapkan terjadi lagi dalam hidupku ketika kanker itu kembali padaku, kini ia menyerang wajah sebelah kananku.

Disaat aku mendapatkan vonis itu kembali, aku tidak lagi takut dan aku tidak lagi marah kepada Tuhan. Aku bersyukur padanya, ia memberikan aku kesempatan lebih lama di dunia ini untuk dapat bersama sahabat, keluargaku dan kekasihku.Walau air mata berjatuhan disampingku, aku berusaha untuk tegar dan mengatakan kepada semua orang, kalau ujian dalam hidupku adalah tanda sayang Tuhan kepadaku.

Dokter yang menyelamatkan hidupku pertama kalinya menyerah, ia tidak sanggup lagi menyelamatkanku. Aku hanya tersenyum dan berjanji untuk bertahan hidup hingga aku bisa melewatkan ujian terakhirku di dunia ini agar bisa lulus di bangku SMP. Walau aku buta dan lumpuh, aku berjanji pada Tuhan dan sahabat-sahabatku untuk lulus dan memakai seragam SMA.

Sobat, hidup adalah anugerah yang indah. Atas kebaikan Tuhan, aku mampu mengikuti ujian sekolah dengan kondisiku yang semakin parah. Aku bersyukur karena bisa lulus dengan baik dan sampai akhirnya mampu memakai seragam rok abu-abu bersama sahabat-sahabatku walau hanya sehari disaat sebelum aku harus dilarikan ke rumah sakit karena darah terus mengalir di hidungku.Kematianku semakin dekat dan itu bisa kurasakan disaat hembusan nafasku semakin berat.

Tapi aku tidak ingin pergi dari dunia ini tanpa menuliskan suratku kepada Tuhan..surat yang telah membuatku hidup sebagai seorang gadis yang berjuang untuk hidup dan ribuan anak-anak lain yang mengalami penyakit kanker yang sama denganku.

Aku berharap ketika aku tidak ada lagi di dunia ini, kisahku menjadi inspirasi bagi siapapun yang ada di dunia ini untuk bersyukur akan hidup. Karena Tuhan begitu mencintai kita dengan cobaannya.

Sobat.. bila ada tawa di dunia ini, maka akan ada tangis disampingnya.

Surat Kecil Untuk Tuhan

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
terjadi pada orang lain.

Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan…
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu

Tuhan…
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan…
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan…
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan…
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan ..
Surat kecil-ku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali…

Ke dunia yang Kau berikan padaku..

In memorial,

Gita Sesa Wanda Cantika.
15/07/91 s/d 25/12/06


Senin, 07 Mei 2012

THE BRAIN CHARGER-MUHAMMAD PIZARO NOVELAN TAUHIDI


Pasar Ciputat mendadak Ramai. Sebuah mayat mahasiswi terbaik ditemukan pada posisi mengenaskan. Satu petunjuk disisakan pelaku hanyalah tiga huruf bertuliskan ”MDR” dan angka 42. Seminggu kemudian, kampus Islam terbesar di Indonesia itu kembali dibuat geger. Ghefira Maylana Fasha, mahasiswa terbaik tahun 2006, ditemukan terbunuh. Di kaki kiri mahasiswi jurusan Kimia ini ditemukan bersamaan dengan kalimat bertulis Zweifel, Zweitracht, Zwitter. Ia terkubur di taman Fakultas Sains dan Teknologi yang didalamnya tertera relief Sudamanda, sebuah gambar ritual penyembahan Pagan pada era Dewi Isytar di Babilonia Kuno yang sarat dengan dunia numerologi.

Akan tetapi mahasiswa cantik memang banyak, tapi mahasiswi yang membedah kasus mutilasi dengan insting psikoanalisis hanyalah Anisatu Lexa Meteorika. Satu-satunya Mahasiswa ITB yang sengaja pindah ke kampus Islam hanya untuk membuktikan apakah Tuhan itu ada? Ironisnya, baru saja pindah ia sudah menjadi mahasiswa terbaik dan berkesimpulan Tuhan itu absurd. Ya persis seperti umpatan kaum Freudian pada umumnya. Baginya Tuhan,tuhan, dan TUHAN itu relatif. Mau ditaruh dimana saja huruf vokal itu tetap saja ilmu Tuhan adalah profan. “Tuhan sudah mati dan yang membunuhnya adalah kita,” kata Anisa menukil Nietszhe didepan mahasiswa Fakultas Dakwah yang menjadikan Sayyid Quthb sebagai idolanya.

Kasus mutilasi ini akhirnya mengundang sekolompok mahasiswa untuk memecahkannya. Mereka melihat jejak pembunuhan ternyata menyimpan sederetan kode-kode angka kuno yang menantang untuk dipecahkan. Mereka harus bertarung dengan waktu. Pelaku mengincar setiap mahasiswa terbaik di tiap tahunnya. Dan ironisnya, mereka adalah target seterusnya untuk dimutilasi. Padahal mereka belum juga usai melawan liberalisme pemikiran kampus demi mewujudkan sebuah cita: Membangun Peradaban!

Ya benturan peradaban yang akhirnya mempertemukan Anisatu Lexa sebagai mahasiswa liberal dengan Rizki yang begitu hanif. Jarak ideologi mereka bagaikan Madinah dan Argentina. Rizki adalah mahasiswa muslim yang begitu tawadhu sedangkan Anisa adalah dosen Psikologi pertama di kampus meski baru semester tiga.

“Bolehkah jika aku jatuh hati kepada seorang pria alim, baik, jujur? Kendati aku hanya sanggup berjilbab sebelum sampai garis finish: Tidak panjang, tidak lebar, terlebih longgar. Membiarkan poniku mencuri-curi keluar diterpa angin dan tidak ada handset mengelilingi gelangan tanganku,” ujar Anisa di dalam hati.

Selamatkah mereka dari incaran mutilasi? Betulkah kampus Islam adalah target mistisisme kuno di Indonesia? Apakah orang pintar mesti bahagia? Dikemas dengan bahasa mengalir dan mudah dicerna, novel ini akan membawa pembaca pada petualangan menegangkan dan sarat pengetahuan. Dari dunia numerologi, sains, psikologi hingga pergulatan cinta antara seorang hamba dengan TuhanNya. Dramatis. Menegangkan. Selamat menahan napas!


__Endorsment___

Serumit apapun suatu pemikiran, namun jika disajikan dalam bentuk novel, maka wacana itu akan lebih enak untuk dibaca. Novel The Brain Charger menunjukkan bagaimana kepiawaian penulisnya, bahkan bisa menjadi ikon bagi tren novel ilmiah seperti Roman Falasafi-nya Ibn Thufail. Saya terfikir suatu saat akan ada yang mengangkat novel ini ke layar lebar. (Prof. Abdul Mujib, Guru Besar Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Sebuah novel atraktif dan menarik. Pembaca tidak akan dibawa pada cerita melankolis dan picisan, melainkan pada dunia pemikiran yang menarik dan kritis. Penulisnya yang adalah juga alumni UIN Syarif Hidayatullah seolah sedang melakukan oto kritik terhadap kampus yang telah membesarkan dan memberikannya ilmu. Sayang sekali bila pembaca melewatkan untuk membacanya. (Tiar Anwar Peneliti INSISTS)

Novel yang cukup apik dan kreatif ini mengajak kita untuk masuk ke dalam dunia misteri yang penuh teka-teki dan sarat dengan pengetahuan. Menceritakan pencarian panjang seorang perempuan feminis keturunan Jepang namun ateis dalam menemukan kembali cinta dan Tuhannya. Novel ini merupakan bentuk kegelisan dari penulisnya atas fenomena sekulerisasi dan liberalisasi dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Trimanto (Aktivis Forum Lingkar Pena).

Senin, 19 Maret 2012

Nuansa Boarding :)





                                                         Pembacaan Al-Ma'tsurat



                                                           Seminar Valentine
                                                                       Anak Putri

kepala sekolah :)

Bapak Kepala Sekolah SMP Terpadu Al-Qudwah Ust.Jaenuri