Selasa, 03 Desember 2013

Sinopsis Novel Ibuku Perempuan Berwajah Surga

Risma. Seorang Perempuan yang sedang mengandung yang tinggal oleh suaminya karena pernikahannya yang tidak disetujui oleh orangtua sang Suami. Risma disuruh oleh sang mertua untuk pindah kontrakan. Saat pertama kali pindah ke rumah kontrakan barunya itu banyak tetangga yang mencap miring Risma sebagai pelacur. Namun berkat kegigihan dan kesabarannya, para tetangga yang dulu mencaci dan mencemooh balik memberikan simpati. Mereka sangat menyayangi Risma, tak jarang ada yang memberi susu agar kondisi Risma dan bayinya sehat. Lingkungan yang seperti itulah yang sedikit membuat Risma bersemangat dan merasa Tuhan masih menyayanginya.
            Seperti biasanya Risma menyeterika dirumah tetangganya, namun ketika Risma sedang menyeterika tiba-tiba saja Risma merasa perutnya sangat sakit. Secara perlahan ternyata mengalir cairan diselangkangannya, hingga ke kaki.Melihat Risma yang seperti itu, tetangganya pun membawa Risma ke rumah sakit. Suasana hening, tetangga Risma dan suaminya yang masih terlihat panik itu hanya bisa duduk sambil berdoa didepan ruang bersalin. Hingga tiba-tiba pintu ruang persalinan dibuka dan sayup terdengar suara bayi menangis.
            Setelah boleh pulang dari rumah sakit, para tetangganya pun berkumpul untuk menengok Risma dan anaknya. Tak sekedar mengucapkan selamat, banyak pula yang ingin mengangkat anak dari bayi laki-laki yang tampan itu. Namun Risma menolak secara halus. Ia merasa sangat bersyukur telah dikaruniai seorang anak laki-laki tampan. Wajah anak itu mirip sekali dengan Andre, kulitnya putih bersih, berhidung mancung. Yang paling mirip adalah matanya yang bening namun agak sipit.
            Setelah melahirkan Rumi, banyak tetangga yang sering datang ke rumah. Mereka sangat menyukai Rumi yang berkulit putih bersih dan tampan itu. Tak jarang tetangganya yang kemudian datang sambil membawa makanan atau baju untuk Rumi. Keadaan itu membuat Risma makin bersemangat melanjutkan hidup. Ya, kini ia punya semangat baru.
            Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat. Tubuhnya cukup tinggi untuk anak seusianya, kulitnya yang putih bersih semakin menambah ketampanan Rumi. Sejak adanya Rumi, Risma selalu mengajaknya untuk ikut bekerja mencuci baju ke tetangga rumah yang kebetulan sudah ia anggap orangtuanya sendiri.
            Setiap pagi seusai shalat subuh, Risma akan pergi ke pasar untuk menjual kue buatan tetangganya. Setelah pulang dari pasar, ia pun langsung mencuci pakaian para tetangga lainnya yang memang sudah menjadi langganannya lalu menyetrika pakaian yang telah kering. Tak ada raut wajah lelah terlihat. Risma tampak begitu bersemangat bekerja. Apalagi jika Rumi menyambutnya setiap kali ia pulang kerumah. Sekedar meminta kue yang tak laku atau minta digendong. Rumi menjadi api yang membakar semangat Risma untuk  bekerja keras.
            Setiap sore seusai ashar, Risma juga ikut membantu tetangganya yang berjualan baju di stasiun kereta. Biasanya Rumi akan ikut jika ia berjualan baju, karena Risma akan pulang larut malam, kadang hingga jam 10 sampai di rumah. Rumi pun seakan mengerti dan tak membuat Ibunya merasa kerepotan atau terbebani. Ia akan diam menunggu Ibunya sambil bermain dengan anak-anak lain yang ada di stasiun. Ia tak pernah meminta dibelikan mainan sebagaimana anak-anak yang lain.
            Setiap malam, sebelum tidur biasanya ia juga akan mendongengkan cerita kepada Rumi yang ditutup dengan nyanyian Kasih Ibu. Rumi yang tertidur pulas memeluknya dan itulah kebahagiaan yang benar-benar mampu membuat Risma terus bertahan menghadapi kehidupan yang keras ini.
            Satu hal yang masih membuat Risma bingung adalah bagaimana jika kelak Rumi menanyakan tentang ayahnya.Risma belum bisa berterus terang jika Ayahnya tak bisa bersama Ibunya, namun ia juga tak ingin Rumi menyimpan benci apalagi dendam kepada Ayahnya. Satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan hanya mengatakan jika Ayahnya Rumi sudah meninggal dunia saat bekerja di laut. Meski pahit, tapi mungkin itu jalan yang terbaik yang bisa ia katakan.
            Hari-harinya makin berwarna. Risma suka sekali setiap ia bermain dengan Rumi. Tingkah Rumi yang polos membuatnya mampu tertawa, atau bahkan Rumi yang selalu menanyakan sesuatu hal membuatnya terpaksa harus berpikir keras menjawabnya.
            Rumi yang memasuki usia 6 tahun semakin mengerti bahwa ia memiliki sosok ibu yang luar biasa. Ia selalu memerhatikan bagaimana ibunya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.Rumi mulai mencoba untuk membantu pekerjaan ibunya agar tak terlalu berat, namun usahanya itu justru membawa kesalahan yang membuat ibunya dimaki orang.
            Suatu hari, setelah Ibunya berangkat menjual kue di pasar, Rumi kemudian ingin membantu Ibunya menyiapkan pakaian-pakaian yang akan dicuci. Satu-persatu pakaian kotor itu ia masukann kedalam bak besar dikamar mandi dan kemudian ia masukan detergen. Ia berharap Ibunya akan tersenyum melihat kesungguhannya untuk membantu. Dan ternyata ada dua buah kemeja berwarna putih terlihat ada bercak hitam karena kelunturuan dari pakaian lainnya.  Namun, sikap Ibunya malah membuatnya makin menghargai dan menyayanginya.
            Menginjak usia sekolah, Risma pun menyekolahkan Rumi disebuah sekolah negeri yang tak terlalu mahal. Pintu rezeki seakan mudah terbuka untuknya, ada saja pesanan atau jualan kue dan bajunya laku hingga Rumi bisa sekolah dengan baik. Suatu hari, seusai Rumi pulang sekolah, Risma membawanya ikut bekerja menjual baju di stasiun. Sesampai di stasiun, mereka berjalan melewati beberapa toko perhiasan, Risma berhenti dan memandang sebuah liontin berbandul bulan sabit.Nmun, ia segera beranjak pergi. Melihat itu, Rumi bertanya apakah ibunya menyukai liontin itu yang dibalas dengan sebuah senyuman. Rumi bertekad membelikan ibunya liontin sebagai hadiah ulang tahun ibunya suatu hari kelak. Ya, tiga bulan lagi Ibunya akan ulang tahun. Rumi pun mulai menabung dan mengumpulkan uang jajan, serta uang transport ke sekolahnya. Berbagai cara ia lakukan agar ia bisa membelikan dan mengasihkan liontin itu pada hari ulang tahun Ibunya nanti.
            Setelah mengumpulkan uang yang dirasa cukup, Rumi pun pergi ke stasiun diantar Mang Soleh. Risma memang meminta Mang Soleh mengantar baju sekaligus menjemput Rumi di rumah untuk diantar ke stasiun. Sepanjang perjalanan, Rumi tersenyum senang. Sesampai di stasiun ia segera berlalri ke toko perhiasan yang waktu itu ia datangi bersama ibunya.
            Rumi terdiam sejenak. Ia hanya berhasil mengumpulkan uang sebanyak tiga ratus lima pukuh ribu selama hampir tiga bulan. Namun, ada seorang bapak berkacamata bertanya ke pada Penjaga toko itu. Rumi yang mendengar itu langsung merasa takut bandul untuk Ibunya dibeli oleh lelaki gemuk yang berdiri disampingnya. Tak lama kemudian penjaga toko memberikan kalung dan bandul lengkap dengan surat-suratnya kepada lelaki itu. Seusai menerimanya, lelaki gendut berkacamata itu justru meminta Rumi menerimanya.
Tepat di hari ulang tahun Risma, malam itu Rumi sengaja menunggu Ibunya pulang menjual baju di stasiun. Biasanya ia sudah tertidur lelap. Pintu rumah terdengar dibuka, Rumi pun keluar kamar untuk menyambut Ibunya.
Risma membuka kotak perhiasan itu, seuntai liontin dan bandul bulan sabit. Risma mengernyitkan keningnya, bandul itu sama persis dengan yang ia inginkan, meski kalungya berbeda. Ia lalu memandang Rumi dalam-dalam.
Mendengar perkataan Ibunya, Rumi perlahan meneteskan air mata. Ia menangis memeluk Ibunya. Rumi pun menceritakan bagaimana ia mengumpulkan uang transport dan uang jajannya setiap hari, hingga kejadian di toko perhiasan. Mendengar cerita itu, Risma makin tak sanggup menahan tangisnya. Ia memeluk Rumi lalu ikut menangis.Kebahagiaan yang luar biasa yang tak pernah ia dapatkan tiba-tiba menyeruak hadir dalam hidupnya.
Di lain pihak, Andre yang sudah menikah lagi dengan Rieska yang dipilih oleh orangtuanya belum memiliki keturunan. Rieska divonis mandul oleh dokter. Mendengar kenyataan itu ibu Andre sangat terpukul. Orang tua Andre sangat khawatir jika kelak semua harta kekayaan itu pada akhirnya diberikan pada orang yang tak berhak. Andre sebagai anak satu-satunya ternyata tak memilik keturunan. Rieska yang merasa dipojokkan karena dialah yang divonis mandul oleh dokter hanya diam saja.
Keesokan malamnya Andre pun mengingatkan pada orang tua tentang Risma yang dulu mengandung anaknya. Sejak malam itu, kesibukan mereka hanya mencari tahu keberadaan Risma. Tak kenal menyerah Ibu Andre mengerahkan beberapa orang yang ditugaskan khusus untuk mencari Risma. Setelah beberapa hari, keberadaan Risma pun telah diketahui. Dan Ibu Andre pun besok akan menemui Risma dan anaknya itu.
Siang itu Rumi baru saja pulang dari sekolah. Tepat di gerbang sekolah, seorang nenek yang sudah berumur, menghampirinya. Kemudian menanyakan dimana tempat tinggalnya. Seorang nenek itu pun hendak berniat ingin mengantarkan Rumi pulang.Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah. Rumi mepersilakan nenek itu masuk kedalam rumah, lalu menawarinya minum. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Risma pun datang dan langsung menyalaminya. Dan ternyata, ya, itu Ibunya Andre.
Ibunya Andre lalu menceritakan semua yang terjadi mulai dari Risma menuruti sarannya, pernikahan Andre dengan Rieska hingga kemudian mereka memutuskan mencari Risma kembali. Risma mendengarkan semua cerita itu dengan seksama. Ada kerinduan untuk melihat Andre sekarang. Namun ia sadar statusnya. Satu hal yang sangat menyakitkan adalah saat Ibunya Andre kembali memintanya untuk mengizinkan Rumi ikut dengan mereka.
Risma terdiam. Entah kenapa setiap kali ia berbincang dengan Ibunya Andre seakan tidak ada daya untuk menolaknya. Di satu sisi, ia memang tak pernah ingin sedetik pun lepas dari Rumi. Di sisi lain ia juga sadar bahwa kehidupan Rumi akan jauh lebih baik jika dirawat oleh keluarganya Andre.
Ibu Andre pun setuju lalu berpamitan pulang. Kali ini sikap Ibu Andre sangat sopan, berbeda dengan waktu itu. Malam itu, Risma tak bisa tidur. Ia memeluk, menciumi, dan memandangi Rumi. Tiada lagi kebahagiaan dalam hidupnya selain anak tampan itu.Tapi haruskah ia kehilangan untuk kedua kalinya? Haruskah ia kembali menyerah pada keadaan? Ia masih sangat ingat bagaimana janji yang diucapkan, ada sedikit rasa iba yang muncul dalam benaknya. Sembilan tahun berlalu, dan kini rasa sakit itu kembali lagi hadir.
Keesokan harinya Risma pun membicarakannya dan menjelaskannnya kepada Rumi. Namun, Rumi pun menolak. Tetapi Risma pun terus memberikan pemahaman pada Rumi agar ia mau ikut dengan Ibu Andre, nenek kandungnya. Sehari sebelum hari itu, akhirnya Rumi pun menuruti keinginan Ibunya dengan janji bahwa Ibunya akan menemumuinya setiap minggu.
Seminggu setelah pertemuan pertama dengan Ibunya Andre, hari itu Risma sengaja tidak berjualan. Ia menunggu kedatangan Ibunya Andre yang akan menjemput Rumi. Tepat seusai ashar, Ibunya Andre datang dengan bersama seorang sopir. Risma pun menjelaskan semua kebiasaan Rumi pada Ibunya Andre.
Risma menahan air matanya agar Rumi tidak ragu dan bimbang lagi walau dalam hatinya ia menangis dan meronta. Ya, ini sudah menjadi keputusannya. Rumi layak mendapatkan haknya, ia layak hidup bahagia. Pelukan terakhir tanda perpisahan Rumi dan Ibunya. Mobil sedan itu melaju kencang di jalan lalu menghilang.
Andre sangat ingin melihat Rumi, anak kandungnya yang selama ini hampir ia lupakan. Mobil sedan itu pun memasuki rumah mewah. Andre tampak sudah berdiri untuk menyambut. Ternyata Rumi pun tertidur pulas sekali. Andre segera meraih Rumi yang tertidur, lalu membopongnya masuk kedalam rumah disusul kemudian oleh Ibunya Andre. Tak seperti biasanya, Andre pagi-pagi sekali sudah terbangun. Ia pun segera beranjak menuju kamar tidurnya sekedar ingin melihat Rumi. Andre hanya melihatnya sebentar, ia mencoba mencium kening Rumi, tapi takut anak itu terbangun.
Tak lama, Rumi pun bangun. Mendengar suara Rumi yang memanggil-manggil Ibunya. Ibunya Andre segera menemui Rumi dan menenangkannya, lalu mengajak turun untuk berkenalan dengan Kakek dan Paman. Andre yang masih takjub  dan tak menyangka akan bisa sedekat itu dengan anak kandungnya mencoba menawarkan air minum. Setelah  sarapan Rumi pun dimandikan oleh seorang pembantu perempuan dan dipakaikan baju. Setelah selesai Rumi pun diajak bermain oleh Paman Andre.
Dua hari kemudian, Andre mengantarkan Rumi ke sekolah yang baru. Sekolah bertaraf Internasional yang memiliki semua fasilitas pendidikan dengan baik. Rumi terlihat kagum dengan sekolah barunya. Dalam diri Rumi, ia melihat hal yang sama seperti dirinya saat kecil. Tak lama ada sebuah telepon. Ya, itu Rieska istrinya Andre. Rieska meminta cerai dan dia sudah mengurus peerceraiannya itu di Pengadilan dan sudah mengutus seorang Pengacara untuk mengurusnya.
Denting bel pulanag terdengar nyaring berbunyi. Sepanjang perjalanan pulang, Rumi bercerita banyak tentang sekolah dan teman-teman barunya. Andre tersenyum bahagia mengedengar itu. Dan setiap hari, Andre selalu mengantar Rumi ke sekolah hingga seminggu penuh. Di akhir pekan, seusai pulang sekolah, Rumi tampak bersemangat sekali. Ia lalu menagih janji Ibunya yang akan datang menemuinya di Surabaya.
Minggu berlalu. Rumi masih sabar menunggu kedatangan Ibunya ke Surabaya. Ia terus bersemangat sekolah agar saat Ibunya tiba ia bisa menunjukkan bahwa ia pun sama-sama berjuang seperti Ibunya yang berada di Malang. Di sela, kerinduannya, Rumi menulis buku harian tentang kerinduannya pada sosok ibu.
Hari-hari berlalu dengan sempurna. Rumi tumbuh besar dan kini sudah masuk ke SMP. Ia diterima masuk sekolah favorit di kota Surabaya. Risma yang mendengar kabar ini pun sujud syukur karena Rumi melewati ujian pertamanya dengan baik, meski ia tak ada di sampingnya. Kehidupan pernikahan Andre yang tak bisa diselamatkan lagi membuatnya bercerai dari Rieska. Perceraian itu sangat memengaruhi kesehatan Ayah Andre yang terkena storke.
Suatu hari, sepulang sekolah Rumi mendengar kabar bahwa Kakek yang menderita stroke dibawa ke rumah sakit. Rumi pun langsung menyusul ke rumah sakit dengan Pak Ujang. Rumi lalu melihat keadaan Kakek yang penuh selang infus, dengan lembut ia megusap lengan Kakek yang terbaring lemah. Keadaan Ayah Andre memburuk setiap hari. Andre dan Ibunya memutuskan untuk merawat Ayah Andre di Singapura. Namun, tepat sehari sebelum keberangkatan mereka, Ayah Andre meninggal dunia. Suasana duka menyelimuti seisi rumah. Rumi yang sebetulnya kurang akrab pun merasa kehilangan karena kadang Kakeklah yang selalu memintanya merawat kelinci-kelinci putih itu.
Sudah hampir setahun lebih Rumi tak mendengar keadaan Ibunya. Rumi sudah naik kelas.Suatu hari, Rumi tak sanggup menahan rasa rindunya, ia pun mencari ibunya ke rumah dimana mereka tinggal tepat di hari ulang tahun Ibunya. Namun, rumah itu kosong. Rumi mencoba bertanya kepada tetatngganya, semua menjawab tidak tahu. Rumi panik, ia terus mencari Ibunya ke pasar hingga ke stasiun namun semuanya sama, tidak ada yang tahu keberadaan Ibunya.
Kepergian Rumi selama dua hari itu membuat Andre dan Ibunya sangat panik. Mereka mencari Rumi di sekolah dan sekitar komplek. Setalah mencari kesana-kemari dan tak ada yang menemukan hasil, mereka pun yakin Rumi pergi ke Malang untuk menemui Ibunya. Andre dan Ibunya pun segera pergi ke Malang untuk mencari Rumi. Di perjalanan, ia menelepon Risma. Ibunya Andre pun menanyakan apakah Rumi sedang bersamanya, tetapi Risma tidak sedang bersama Rumi. Sudah seminggu, ia dirumah kerabatnya. Risma pun menyuruh Ibunya Andre untuk mencari Rumi ke pasar atau stasiun. Namun, ternyata Rumi pun tak ada disana. Langit pun mulai gelap, Ibunya Andre pun menelepon Risma kembali untuk menanyakan apakah ada tempat lain yang biasa dikunjungi Risma dan Rumi dulu.Risma begitu mengingatnya ia sering mengajak Rumi ke mushola kecil sebelum ke arah stasiun untuk berdoa. Ya, mushola itu juga tempat kesukaan Rumi saat masih kecil.
Ibunya Andre lalu meminta Pak Ujang menjalankan mobil dan mencari mushola kecil di pinggir jalan. Pak Ujang menepikan mobilnya di tepi jalan, tepat disamping mushola yang bercat dinding hijau kusam. Mereka pun lamgsung masuk kedalam dan mencari Rumi. Andre menuju pintu mushola yang terbuat dari kayu bercat hijau. Ia lalu membuka pintu itu pelan-pelan, ternyata tak terkunci. Begitu pintu terbuka, ia melihat seorang anak yang sedang tertidur meringkung dipojok mushola bagian dalam. Anak itu kelihatan sangat lemah, ia meringkuk tertidur sambil memegangi perutnya. Ya, anak itu adalaha Rumi. Ibu Andre dan Pak Ujang yang mendengar Andre menyebut Rumi langsung masuk kedalam mushola. Rumi terbangun begitu mendengar ada suara orang masuk kedalam mushola. Ia tampak kaget. Andre langsung memeluknya dengan erat, Rumi membalas pelukan itu lalu menangis.
Setelah Rumi tenang, mereka pun mencoba mengajak Rumi pulang. Namun Rumi bersikeras menemui Ibunya. Sementara itu, disebuah jalan terjadi kecelakaan antara mobil angkutan umum yang bertabrakan dengan bus yang melaju kencang. Risma yang luka berat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan serius. Di rumah sakit, Risma berhasil melewati masa kritis namun akibat pecahan kaca yang mengenai kedua matanya, ia diperkirakan akan mengalami kebutaan.
Rumi terlihat gelisah, begitu juga Andre yang tak henti menatap Ibunya, berharap ada kabar dari Risma. Di rumah itu mereka menunggu hingga jam sepuluh malam. Andre mencoba meyakinkan Rumi bahwa ibunya mungkin sedang berpergian jadi percuma nunggu terus. Rumi melihat ke Ibu Andre yang terlihat letih bersandar di kursi yang ada di depan rumah Risma. Rumi pun mengangguk dan memutuskan kembali ke Surabaya malam itu juga.
Waktu berlalu, sejak kejadian di Malang itu Rumi akhirnya kembali bersekolah. Rumi tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan pintar. Kini, Ia bahkan sudah memasuki kelas tiga SMA dan sebentar lagi akan ujian. Namun, selama beberapa tahun itu ia masih sering mencari tahu keberadaan ibunya yang seakan hilang ditelan bumi. Pencariannya akan sosok ibu kadang sering dilakukan diam-diam, namun seakan buntu karena tak ada satu pun petunjuk tenatang ibunya.
Pendaftaran mahasiswa baru selalu menjadi peristiwa yang ditunggu. Setiap universitas menawarkan program-program yang menggiurkan. Ibu Andre menawarkan kepada Rumi, jika ia ingin kuliah di luar negeri, namun Rumi dengan tegas mengatakan ingin kuliah di kota Malang, tempat ia lahir.
Pilihan Rumi jatuh ke sebuah universitas terkenal di Malang yang populer disebut Kampus Biru. Di sana ia mengambil Fakultas Kedokteran, sama seperti Andre juga sesuai dengan cita-citanya sebagai dokter. Bahkan Andre sendiri yang mengantar Rumi ke Kampus Biru itu. Ada kenangan yang ingin Andre temui di kampus itu.
Beberapa minggu kemudian, Rumi dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru. Keinginannya untuk kuliah di kota Malang terwujud. Sebenarnya, selain karena impiannya, ia pun sengaja memilih kota Malang karena berharap masih dapat menemukan ibunya.
Diam-diam Rumi dijodohkan dengan seorang gadis cantik anak pengusaha terkenal dari Jakarta. Kirana, seorang model yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan Kraton Jawa. Hubungan keluarga Andre dengan pengusaha itu cukup baik, bahkan sejak dulu pun sebenarnya Andre akan dijodohkan dengan salah satu kerabat pengusaha itu, namun pilihan jatuh ke Rieska.
Suatu hari, Rumi pun dikenalkan kepada Kirana. Semenjak perkenalan itu Kirana sering sekali menelepon Rumi. Telepon berdering lagi, kali ini Rumi tak mengangkatnya. Ia terus memacu mobilnya melewati keramaian hingga sampai di perempatan lampu merah. Rumi melihat seorang pemgemis wanita buta. Rumi memacu mobilnya dengan pelan begitu mendekati pengemis wanita yang buta itu. Rumi membuka kaca jendela mobilnya, ia ingin  melihat jelas wajah pengemis buta itu. Terlihat jelas wajah pengemis itu yang sudah rapuh dimakan usia. Namun ada kecantikan yang terpancar dari wajahnya yang lusuh itu. Sayup kemudian terdengar suara nyanyian.
            Kasih Ibu…sepanjang jalan
            Tak terkira selama-lamanya
            Kasih Ibu…
            Ya, lagu Kasih Ibu! Sudah lama sekali ia tak mendengar lagu itu. Tapi, siapa yang menyanyikan lagu itu?
            Toottttt!!!
            Tiba-tiba terdengar suara  klakson dari mobil di belakangnya. Rumi pun menutup pintu kaca jendela mobil lalu mengemudikan mobilnya, kembali ke kontrakannya. Sepanjang jalan, ingatan tentang ibunya kembali hadir. Apalagi setelah ia mendengar sayup-sayup nyanyian Kasih Ibu, lagu yang dulu selalu ia nyanyikan bersama ibunya saat hendak tidur.
            Sejak perjodohan itu Ibu Andre sering sekali menyuruh Rumi untuk mengantar atau menemani Kirana. Ibu Andre menelepon Rumi, tetapi Rumi mematikan teleponnya Ia merasa kembali suntuk, penat yang sebenarnya tak harus ia rasakan. Rumi kemudian melewati beberapa perempatan, sampai pada perempatan lampu merah tempat pengemis buta itu berada. Entah kenapa ada keinginan dalam hatinya untuk ke tempat itu. Wajah pengemis itu terlihat lusuh terbakar matahari. Pakaiannya yang kumal semakin membuat penampilan pengemis itu terlihat menyedihkan. Rumi mengamati penegemis yang terlihat sangat sabar menunggu kebaikan orang yang melintas di jalan. Rasa iba sekaligus penasaran hadir di hati Rumi. Ia terus saja memerhatikan pengemis buta itu hingga matahari mulai condong ke barat. Ketika pengemis itu hendak pergi, Rumi pun segera menyebrang jalan untuk membantunya berdiri.
            Rumi memberikan tongkat kepada pengemis itu lalu terus mengawasinya hingga masuk kedalam gang kecil yang berada tak jauh dari perempatan. Seperti ada rasa lega ketika Rumi membantu pengemis buta itu.
            Suatu hari, Ibunya Andre menelepon  Rumi dan meminta Rumi untuk menemui Kirana di Vila Batu. Namun, Rumi tak mau, tetapi Ibu andre memaksa dan karena kesal kepada Rumi telepon pun dimatikan. Rumi pun merasa kesal. Rumi yang merasa hidupnya selalu diatur lalu memutuskan tak pergi ke Vila Batu. Ia lebih suka diam di rumah kontrakan atau keliling kota Malang sekedar menenangkan pikiran. Tiba-tiba pikirannya teringat pengemis yang di lampu merah. Rumi pun memacu mobilnya ke tempat itu.
            Sayup ia mendengar pengemis buta itu sedang menyanyikan lagu “Kasih Ibu” yang biasa dulu ia nyanyikan bersama ibunya. Ada getaran hebat dalam hati Rumi. Suara itu sangat ia hafal. Ya, suara ibunya! Tapi, apa mungkin pengemis itu ibunya? Rumi seakan mendengar bahwa ibunya masih hidup, sedang menyanyikan lagu itu untuknya. Nyanyian  itu ia ikuti liriknya dengan suara lirih. Rumi mengamati wajah pengemis buta itu dengan seksama. Mirip sekali dengan ibunya! Kenapa ia baru menyadari sekarang? Hampir tiga hari Rumi selalu mengikuti pengemis itu, bahkan hingga ke rumahnya, sebuah gubug kecil yang reyot.
            Rumi berpura-pura menanyakan alamat kepada pengemis itu, alamat stasiun kereta. Pengemis itu dengan lancar memberitahukan alamat stasiun kereta dengan jelas. Ia yakin pengemis itu ibunya, tapi bagaimana membuktikannya. Akhirnya, Rumi pun tahu bahwa pengemis itu ibunya dari sebuah liontin yang dulu ia berikan saat masih anak-anak. Rumi tak kuasa manahan haru, ingin segera dipeluknya perempuan tua yang duduk didepannya itu.
            Pengemis buta yang ternyata Risma itu terdiam. Nampak memikirkan sesuatu, terlihat dari kedua bola matanya yang bergerak meski sudah tak mampu lagi melihat.
            Rumi pun menawarkan ibunya agar ikut bersamanya.Sebenarnya, Risma ingin tinggal bersama Rumi. Namun, ia juga menyadari kondisinya yang kini sudah rapuh dan buta. Ia tak ingin hidupnya menyengsarakan Rumi. Baginya, bertemu kembali dengan Rumi dan mengetahui bahwa anaknya sudah besar dan meraih cita-citanya sudah menjadi kebahagiaan yang tak akan terbayar oleh apa pun.
            Tiba-tiba Risma batuk. Ia memegangi dadanya, ada raut kesakitan yang jelas terlihat diwajahnya. Rumi mengajak Ibunya untuk ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan di rumah sakit akhirnya diketahui bahwa Risma menderita penyakit TBC yang sudah akut. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan makin memperburuk penyakitnya. Rumi pun makin kuat keinginannya untuk segera membawa ibunya agar tinggal di rumah kontrakannya. Rumi berhasil membujuk ibunya untuk tinggal bersamanya.
            Keesokan harinya Rumi berpamitan kepada Ibunya untuk pergi agak lama. Rumi akan mengantarkan Kirana ke Surabaya. Setelah sampai di rumah di Surabaya. Kirana pun meminta izin untuk pulang karena sudah tidak betah dengan tingkah Rumi yang begitu cuek. Di ruang tengah, Rumi duduk di samping Andre, sementara Ibu Andre masih memperlihatkan wajah kesalnya. Entah kenapa justru Rumi seakan memiliki keberanian untuk mengungkapkan bahwa ia bertemu dengan ibunya. Namun, sebelum ia mengatakan itu, Ibu Andre sudah menceramahinya tentang perjodohan. Perselisihan itupun terus terjadi hingga Rumi akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga Soemoatmojo.
            Rumi sampai di rumah kontrakannya setelah Isya. Ia sempat membelikan beberapa lauk untuk makan ibunya. Keputusan Rumi yang melepas semua warisannya membuat kalang kabut keluarga Andre. Mereka terus membujuk Rumi, tetapi Rumi tetap tak mau. Setiap hari, Rumi terus menemani ibunya. Karena terbiasa menggunakan mobil, Rumi pun kembali merasakan bagaimana panasnya terik matahari saat harus berjalan kaki dari satu perusahaan ke perusahaan untuk mencari kerja. Ia melakukan semua itu dengan hati yang senang, tak sedikit pun ia menyesal melepas semua pemberian keluarga Soemoatmojo.
            Saat pulang ke rumah seusai mencari pekerjaan, Rumi melihat mobil yang sudah ia kenal baik di halaman rumah kontrakannya. Ia pun langsung masuk dan mendapati ibunya tengah berbincang dengan Paman Andre. Ibunya pun menceritakan semuanya, bahwa yang selama ini ia sebut paman itu adalah Ayahnya. Namun, Rumi tetap tak percaya dengan semua itu, Rumi pun menyuruh Paman Andre yang sebenarnya Ayahnya untuk pulang kembali ke Surabaya.
            Selepas Andre pulang, Risma kemudian mencoba menjelaskan kepada Rumi tentang cerita yang sebenarnya. Cerita ibunya itu membuat Rumi merasakan marah sekaligus sedih. Orang yang selama ini ia anggap Paman, ternyata adalah Ayah kandungnya, Meski merasa benci, namun pada akhirnya Rumi pun menerima penjelasan dari ibunya juga kenyataan bahwa ia memang anak dari Paman Andre.
            Tiba-tiba Risma batuk, bercak darah kemudian terlihat di telapak tangannya. Rumi yang tak mau mengambil resiko segera membawa ibunya ke rumah sakit. Risma dibawa ke unit gawat darurat untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Keesokan harinya, Andre yang sudah berbicara tentang Rumi dan Risma kepada Ibunya terlihat gelisah. Ibunya tetap meminta Andre mengambil Rumi kembali ke rumah Surabaya. Ibu Andre dan Andre yang diantar Pak Ujang pun langsung menuju ke Malang untuk menemui Rumi. Namun dirumah kontrakan Andre tak menemukan siapapun. Tetangganya bilang bahwa Rumi pergi ke rumah sakit sambil menggendong Ibunya. Andre dan Ibunya pun langsung menuju ke rumah sakit. Di dalam kamar perawatan, Rumi tampak gelisah.
            Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk. Lalu masuk Andre dan Ibunya. Rumi yang melihat itu tampak kaget, Rumi pun menemui Andre dan Neneknya yang ikut masuk kedalam ruangan. Ibu Andre yang sejak semula bersikukuh mengambil Rumi kembali, tiba-tiba merasa sangat bersalah setelah melihat keadaan Risma yang di tubuhnya penuh alat dokter. Ia pun meminta Rumi membantunya mendekat ke Risma. Rumi mendorong kursi roda agar lebih dekat ke ranjang tempat ibunya berbaring. Ibunya Andre pun meminta maaf kepada Risma dan Rumi.
            Setelah menunggu Risma hingga sore hari, Ibu Andre memutuskan kembali ke Surabaya karena ia merasa semua keputusan sudah ada. Ia pun menerima keinginan Rumi yang ingin bersama dengan ibunya. Sementara Andre meminta waktu untuk menemani Rumi dan Risma di rumah sakit. Ibu Andre pun pulang ke Surabaya diantar Pak Ujang.
            Tepat pukul sepuluh malam, tiba-tiba Risma menggerakan jemarinya. Sejak siang tadi, kondisinya memang menurun bahkan alat deteksi jantung menunjukkan jantung Risma sudah lemah sekali. Melihat tangan Ibunya bergerak, Rumi segera menuju samping tempat ia tidur. Ia lalu menggengam tangan kanan ibunya.
            Kelopak mata ibunya terlihat bergerak-gerak. Jemari tangannya pun membalas genggaman tangan Rumi. Andre kemudian ikut duduk di sisi sebelahnya, ia menangis melihat keadaan Risma. Namun, ia pun mencoba terlihat tegar didepan anaknya, Rumi. Andre yang kembali bertemu dengan Risma tak kuasa menahan sesalnya. Ia pun sudah memutuskan untuk berkumpul bersama anak dan perempuan yang masih sangat dicintainya itu.
            Risma kemudian menggerakkan kembali tanganya seakan ingin memeluk. Rumi mengecup kening ibunya lalu mengusap airmata ibunya yang menetes di pipi.
            Mendengar itu, Andre segera mendekatkan dirinya. Ia lalu mengusap kening Risma dan menggenggam erat jemari tangan kiri Risma. Ia merasa tangan itu pun membalas genggamannya.
            Tak lama kemudian, genggaman tangan ibunya terasa mengendur. Rumi yang merasakan itu segera melihat monitor detak jantung yang ternyata sudah tak menunjukkan detak jantung ibunya. Rumi menangis dan memeluk ibunya, sementara Andre mengusap rambut Rumi dan menggenggam erat jemari Risma. Malam itu Risma menghembuskan nafas terakhirnya bersama orang-orang yang dicintai.





Nama         : Fadlia Rahman
Kelas          : XI IPA 2