Risma.
Seorang Perempuan yang sedang mengandung yang tinggal oleh suaminya karena
pernikahannya yang tidak disetujui oleh orangtua sang Suami. Risma disuruh oleh
sang mertua untuk pindah kontrakan. Saat pertama kali pindah ke rumah kontrakan
barunya itu banyak tetangga yang mencap miring Risma sebagai pelacur. Namun berkat
kegigihan dan kesabarannya, para tetangga yang dulu mencaci dan mencemooh balik
memberikan simpati. Mereka sangat menyayangi Risma, tak jarang ada yang memberi
susu agar kondisi Risma dan bayinya sehat. Lingkungan yang seperti itulah yang
sedikit membuat Risma bersemangat dan merasa Tuhan masih menyayanginya.
Seperti biasanya Risma menyeterika
dirumah tetangganya, namun ketika Risma sedang menyeterika tiba-tiba saja Risma
merasa perutnya sangat sakit. Secara perlahan ternyata mengalir cairan diselangkangannya,
hingga ke kaki.Melihat Risma yang seperti itu, tetangganya pun membawa Risma ke
rumah sakit. Suasana hening, tetangga Risma dan suaminya yang masih terlihat
panik itu hanya bisa duduk sambil berdoa didepan ruang bersalin. Hingga
tiba-tiba pintu ruang persalinan dibuka dan sayup terdengar suara bayi
menangis.
Setelah boleh pulang dari rumah
sakit, para tetangganya pun berkumpul untuk menengok Risma dan anaknya. Tak
sekedar mengucapkan selamat, banyak pula yang ingin mengangkat anak dari bayi
laki-laki yang tampan itu. Namun Risma menolak secara halus. Ia merasa sangat
bersyukur telah dikaruniai seorang anak laki-laki tampan. Wajah anak itu mirip
sekali dengan Andre, kulitnya putih bersih, berhidung mancung. Yang paling
mirip adalah matanya yang bening namun agak sipit.
Setelah melahirkan Rumi, banyak
tetangga yang sering datang ke rumah. Mereka sangat menyukai Rumi yang berkulit
putih bersih dan tampan itu. Tak jarang tetangganya yang kemudian datang sambil
membawa makanan atau baju untuk Rumi. Keadaan itu membuat Risma makin
bersemangat melanjutkan hidup. Ya, kini ia punya semangat baru.
Bayi itu tumbuh menjadi anak yang
sehat. Tubuhnya cukup tinggi untuk anak seusianya, kulitnya yang putih bersih
semakin menambah ketampanan Rumi. Sejak adanya Rumi, Risma selalu mengajaknya
untuk ikut bekerja mencuci baju ke tetangga rumah yang kebetulan sudah ia
anggap orangtuanya sendiri.
Setiap pagi seusai shalat subuh,
Risma akan pergi ke pasar untuk menjual kue buatan tetangganya. Setelah pulang
dari pasar, ia pun langsung mencuci pakaian para tetangga lainnya yang memang
sudah menjadi langganannya lalu menyetrika pakaian yang telah kering. Tak ada
raut wajah lelah terlihat. Risma tampak begitu bersemangat bekerja. Apalagi
jika Rumi menyambutnya setiap kali ia pulang kerumah. Sekedar meminta kue yang
tak laku atau minta digendong. Rumi menjadi api yang membakar semangat Risma
untuk bekerja keras.
Setiap sore seusai ashar, Risma juga
ikut membantu tetangganya yang berjualan baju di stasiun kereta. Biasanya Rumi
akan ikut jika ia berjualan baju, karena Risma akan pulang larut malam, kadang
hingga jam 10 sampai di rumah. Rumi pun seakan mengerti dan tak membuat Ibunya merasa
kerepotan atau terbebani. Ia akan diam menunggu Ibunya sambil bermain dengan
anak-anak lain yang ada di stasiun. Ia tak pernah meminta dibelikan mainan
sebagaimana anak-anak yang lain.
Setiap malam, sebelum tidur biasanya
ia juga akan mendongengkan cerita kepada Rumi yang ditutup dengan nyanyian
Kasih Ibu. Rumi yang tertidur pulas memeluknya dan itulah kebahagiaan yang
benar-benar mampu membuat Risma terus bertahan menghadapi kehidupan yang keras
ini.
Satu hal yang masih membuat Risma
bingung adalah bagaimana jika kelak Rumi menanyakan tentang ayahnya.Risma belum
bisa berterus terang jika Ayahnya tak bisa bersama Ibunya, namun ia juga tak
ingin Rumi menyimpan benci apalagi dendam kepada Ayahnya. Satu-satunya jalan
yang bisa ia lakukan hanya mengatakan jika Ayahnya Rumi sudah meninggal dunia
saat bekerja di laut. Meski pahit, tapi mungkin itu jalan yang terbaik yang
bisa ia katakan.
Hari-harinya makin berwarna. Risma
suka sekali setiap ia bermain dengan Rumi. Tingkah Rumi yang polos membuatnya
mampu tertawa, atau bahkan Rumi yang selalu menanyakan sesuatu hal membuatnya
terpaksa harus berpikir keras menjawabnya.
Rumi yang memasuki usia 6 tahun
semakin mengerti bahwa ia memiliki sosok ibu yang luar biasa. Ia selalu
memerhatikan bagaimana ibunya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup
mereka.Rumi mulai mencoba untuk membantu pekerjaan ibunya agar tak terlalu
berat, namun usahanya itu justru membawa kesalahan yang membuat ibunya dimaki
orang.
Suatu hari, setelah Ibunya berangkat
menjual kue di pasar, Rumi kemudian ingin membantu Ibunya menyiapkan
pakaian-pakaian yang akan dicuci. Satu-persatu pakaian kotor itu ia masukann
kedalam bak besar dikamar mandi dan kemudian ia masukan detergen. Ia berharap
Ibunya akan tersenyum melihat kesungguhannya untuk membantu. Dan ternyata ada
dua buah kemeja berwarna putih terlihat ada bercak hitam karena kelunturuan
dari pakaian lainnya. Namun, sikap
Ibunya malah membuatnya makin menghargai dan menyayanginya.
Menginjak usia sekolah, Risma pun
menyekolahkan Rumi disebuah sekolah negeri yang tak terlalu mahal. Pintu rezeki
seakan mudah terbuka untuknya, ada saja pesanan atau jualan kue dan bajunya
laku hingga Rumi bisa sekolah dengan baik. Suatu hari, seusai Rumi pulang
sekolah, Risma membawanya ikut bekerja menjual baju di stasiun. Sesampai di
stasiun, mereka berjalan melewati beberapa toko perhiasan, Risma berhenti dan
memandang sebuah liontin berbandul bulan sabit.Nmun, ia segera beranjak pergi.
Melihat itu, Rumi bertanya apakah ibunya menyukai liontin itu yang dibalas
dengan sebuah senyuman. Rumi bertekad membelikan ibunya liontin sebagai hadiah
ulang tahun ibunya suatu hari kelak. Ya, tiga bulan lagi Ibunya akan ulang
tahun. Rumi pun mulai menabung dan mengumpulkan uang jajan, serta uang
transport ke sekolahnya. Berbagai cara ia lakukan agar ia bisa membelikan dan
mengasihkan liontin itu pada hari ulang tahun Ibunya nanti.
Setelah mengumpulkan uang yang
dirasa cukup, Rumi pun pergi ke stasiun diantar Mang Soleh. Risma memang
meminta Mang Soleh mengantar baju sekaligus menjemput Rumi di rumah untuk
diantar ke stasiun. Sepanjang perjalanan, Rumi tersenyum senang. Sesampai di
stasiun ia segera berlalri ke toko perhiasan yang waktu itu ia datangi bersama
ibunya.
Rumi terdiam sejenak. Ia hanya
berhasil mengumpulkan uang sebanyak tiga ratus lima pukuh ribu selama hampir
tiga bulan. Namun, ada seorang bapak berkacamata bertanya ke pada Penjaga toko
itu. Rumi yang mendengar itu langsung merasa takut bandul untuk Ibunya dibeli
oleh lelaki gemuk yang berdiri disampingnya. Tak lama kemudian penjaga toko
memberikan kalung dan bandul lengkap dengan surat-suratnya kepada lelaki itu.
Seusai menerimanya, lelaki gendut berkacamata itu justru meminta Rumi
menerimanya.
Tepat
di hari ulang tahun Risma, malam itu Rumi sengaja menunggu Ibunya pulang
menjual baju di stasiun. Biasanya ia sudah tertidur lelap. Pintu rumah
terdengar dibuka, Rumi pun keluar kamar untuk menyambut Ibunya.
Risma
membuka kotak perhiasan itu, seuntai liontin dan bandul bulan sabit. Risma mengernyitkan
keningnya, bandul itu sama persis dengan yang ia inginkan, meski kalungya
berbeda. Ia lalu memandang Rumi dalam-dalam.
Mendengar
perkataan Ibunya, Rumi perlahan meneteskan air mata. Ia menangis memeluk
Ibunya. Rumi pun menceritakan bagaimana ia mengumpulkan uang transport dan uang
jajannya setiap hari, hingga kejadian di toko perhiasan. Mendengar cerita itu,
Risma makin tak sanggup menahan tangisnya. Ia memeluk Rumi lalu ikut menangis.Kebahagiaan
yang luar biasa yang tak pernah ia dapatkan tiba-tiba menyeruak hadir dalam
hidupnya.
Di
lain pihak, Andre yang sudah menikah lagi dengan Rieska yang dipilih oleh
orangtuanya belum memiliki keturunan. Rieska divonis mandul oleh dokter.
Mendengar kenyataan itu ibu Andre sangat terpukul. Orang tua Andre sangat
khawatir jika kelak semua harta kekayaan itu pada akhirnya diberikan pada orang
yang tak berhak. Andre sebagai anak satu-satunya ternyata tak memilik
keturunan. Rieska yang merasa dipojokkan karena dialah yang divonis mandul oleh
dokter hanya diam saja.
Keesokan
malamnya Andre pun mengingatkan pada orang tua tentang Risma yang dulu
mengandung anaknya. Sejak malam itu, kesibukan mereka hanya mencari tahu
keberadaan Risma. Tak kenal menyerah Ibu Andre mengerahkan beberapa orang yang
ditugaskan khusus untuk mencari Risma. Setelah beberapa hari, keberadaan Risma
pun telah diketahui. Dan Ibu Andre pun besok akan menemui Risma dan anaknya
itu.
Siang
itu Rumi baru saja pulang dari sekolah. Tepat di gerbang sekolah, seorang nenek
yang sudah berumur, menghampirinya. Kemudian menanyakan dimana tempat
tinggalnya. Seorang nenek itu pun hendak berniat ingin mengantarkan Rumi
pulang.Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah. Rumi mepersilakan nenek itu
masuk kedalam rumah, lalu menawarinya minum. Setelah beberapa lama menunggu
akhirnya Risma pun datang dan langsung menyalaminya. Dan ternyata, ya, itu
Ibunya Andre.
Ibunya
Andre lalu menceritakan semua yang terjadi mulai dari Risma menuruti sarannya,
pernikahan Andre dengan Rieska hingga kemudian mereka memutuskan mencari Risma
kembali. Risma mendengarkan semua cerita itu dengan seksama. Ada kerinduan
untuk melihat Andre sekarang. Namun ia sadar statusnya. Satu hal yang sangat
menyakitkan adalah saat Ibunya Andre kembali memintanya untuk mengizinkan Rumi
ikut dengan mereka.
Risma
terdiam. Entah kenapa setiap kali ia berbincang dengan Ibunya Andre seakan
tidak ada daya untuk menolaknya. Di satu sisi, ia memang tak pernah ingin
sedetik pun lepas dari Rumi. Di sisi lain ia juga sadar bahwa kehidupan Rumi
akan jauh lebih baik jika dirawat oleh keluarganya Andre.
Ibu
Andre pun setuju lalu berpamitan pulang. Kali ini sikap Ibu Andre sangat sopan,
berbeda dengan waktu itu. Malam itu, Risma tak bisa tidur. Ia memeluk,
menciumi, dan memandangi Rumi. Tiada lagi kebahagiaan dalam hidupnya selain
anak tampan itu.Tapi haruskah ia kehilangan untuk kedua kalinya? Haruskah ia
kembali menyerah pada keadaan? Ia masih sangat ingat bagaimana janji yang
diucapkan, ada sedikit rasa iba yang muncul dalam benaknya. Sembilan tahun
berlalu, dan kini rasa sakit itu kembali lagi hadir.
Keesokan
harinya Risma pun membicarakannya dan menjelaskannnya kepada Rumi. Namun, Rumi
pun menolak. Tetapi Risma pun terus memberikan pemahaman pada Rumi agar ia mau
ikut dengan Ibu Andre, nenek kandungnya. Sehari sebelum hari itu, akhirnya Rumi
pun menuruti keinginan Ibunya dengan janji bahwa Ibunya akan menemumuinya
setiap minggu.
Seminggu
setelah pertemuan pertama dengan Ibunya Andre, hari itu Risma sengaja tidak
berjualan. Ia menunggu kedatangan Ibunya Andre yang akan menjemput Rumi. Tepat
seusai ashar, Ibunya Andre datang dengan bersama seorang sopir. Risma pun menjelaskan
semua kebiasaan Rumi pada Ibunya Andre.
Risma
menahan air matanya agar Rumi tidak ragu dan bimbang lagi walau dalam hatinya
ia menangis dan meronta. Ya, ini sudah menjadi keputusannya. Rumi layak
mendapatkan haknya, ia layak hidup bahagia. Pelukan terakhir tanda perpisahan
Rumi dan Ibunya. Mobil sedan itu melaju kencang di jalan lalu menghilang.
Andre
sangat ingin melihat Rumi, anak kandungnya yang selama ini hampir ia lupakan.
Mobil sedan itu pun memasuki rumah mewah. Andre tampak sudah berdiri untuk
menyambut. Ternyata Rumi pun tertidur pulas sekali. Andre segera meraih Rumi
yang tertidur, lalu membopongnya masuk kedalam rumah disusul kemudian oleh
Ibunya Andre. Tak seperti biasanya, Andre pagi-pagi sekali sudah terbangun. Ia
pun segera beranjak menuju kamar tidurnya sekedar ingin melihat Rumi. Andre
hanya melihatnya sebentar, ia mencoba mencium kening Rumi, tapi takut anak itu
terbangun.
Tak
lama, Rumi pun bangun. Mendengar suara Rumi yang memanggil-manggil Ibunya.
Ibunya Andre segera menemui Rumi dan menenangkannya, lalu mengajak turun untuk
berkenalan dengan Kakek dan Paman. Andre yang masih takjub dan tak menyangka akan bisa sedekat itu
dengan anak kandungnya mencoba menawarkan air minum. Setelah sarapan Rumi pun dimandikan oleh seorang
pembantu perempuan dan dipakaikan baju. Setelah selesai Rumi pun diajak bermain
oleh Paman Andre.
Dua
hari kemudian, Andre mengantarkan Rumi ke sekolah yang baru. Sekolah bertaraf
Internasional yang memiliki semua fasilitas pendidikan dengan baik. Rumi
terlihat kagum dengan sekolah barunya. Dalam diri Rumi, ia melihat hal yang
sama seperti dirinya saat kecil. Tak lama ada sebuah telepon. Ya, itu Rieska
istrinya Andre. Rieska meminta cerai dan dia sudah mengurus peerceraiannya itu
di Pengadilan dan sudah mengutus seorang Pengacara untuk mengurusnya.
Denting
bel pulanag terdengar nyaring berbunyi. Sepanjang perjalanan pulang, Rumi
bercerita banyak tentang sekolah dan teman-teman barunya. Andre tersenyum
bahagia mengedengar itu. Dan setiap hari, Andre selalu mengantar Rumi ke
sekolah hingga seminggu penuh. Di akhir pekan, seusai pulang sekolah, Rumi
tampak bersemangat sekali. Ia lalu menagih janji Ibunya yang akan datang
menemuinya di Surabaya.
Minggu
berlalu. Rumi masih sabar menunggu kedatangan Ibunya ke Surabaya. Ia terus
bersemangat sekolah agar saat Ibunya tiba ia bisa menunjukkan bahwa ia pun
sama-sama berjuang seperti Ibunya yang berada di Malang. Di sela, kerinduannya,
Rumi menulis buku harian tentang kerinduannya pada sosok ibu.
Hari-hari
berlalu dengan sempurna. Rumi tumbuh besar dan kini sudah masuk ke SMP. Ia
diterima masuk sekolah favorit di kota Surabaya. Risma yang mendengar kabar ini
pun sujud syukur karena Rumi melewati ujian pertamanya dengan baik, meski ia
tak ada di sampingnya. Kehidupan pernikahan Andre yang tak bisa diselamatkan
lagi membuatnya bercerai dari Rieska. Perceraian itu sangat memengaruhi
kesehatan Ayah Andre yang terkena storke.
Suatu
hari, sepulang sekolah Rumi mendengar kabar bahwa Kakek yang menderita stroke
dibawa ke rumah sakit. Rumi pun langsung menyusul ke rumah sakit dengan Pak
Ujang. Rumi lalu melihat keadaan Kakek yang penuh selang infus, dengan lembut
ia megusap lengan Kakek yang terbaring lemah. Keadaan Ayah Andre memburuk
setiap hari. Andre dan Ibunya memutuskan untuk merawat Ayah Andre di Singapura.
Namun, tepat sehari sebelum keberangkatan mereka, Ayah Andre meninggal dunia.
Suasana duka menyelimuti seisi rumah. Rumi yang sebetulnya kurang akrab pun merasa
kehilangan karena kadang Kakeklah yang selalu memintanya merawat
kelinci-kelinci putih itu.
Sudah
hampir setahun lebih Rumi tak mendengar keadaan Ibunya. Rumi sudah naik kelas.Suatu
hari, Rumi tak sanggup menahan rasa rindunya, ia pun mencari ibunya ke rumah dimana
mereka tinggal tepat di hari ulang tahun Ibunya. Namun, rumah itu kosong. Rumi
mencoba bertanya kepada tetatngganya, semua menjawab tidak tahu. Rumi panik, ia
terus mencari Ibunya ke pasar hingga ke stasiun namun semuanya sama, tidak ada
yang tahu keberadaan Ibunya.
Kepergian
Rumi selama dua hari itu membuat Andre dan Ibunya sangat panik. Mereka mencari
Rumi di sekolah dan sekitar komplek. Setalah mencari kesana-kemari dan tak ada
yang menemukan hasil, mereka pun yakin Rumi pergi ke Malang untuk menemui
Ibunya. Andre dan Ibunya pun segera pergi ke Malang untuk mencari Rumi. Di
perjalanan, ia menelepon Risma. Ibunya Andre pun menanyakan apakah Rumi sedang
bersamanya, tetapi Risma tidak sedang bersama Rumi. Sudah seminggu, ia dirumah
kerabatnya. Risma pun menyuruh Ibunya Andre untuk mencari Rumi ke pasar atau
stasiun. Namun, ternyata Rumi pun tak ada disana. Langit pun mulai gelap,
Ibunya Andre pun menelepon Risma kembali untuk menanyakan apakah ada tempat
lain yang biasa dikunjungi Risma dan Rumi dulu.Risma begitu mengingatnya ia
sering mengajak Rumi ke mushola kecil sebelum ke arah stasiun untuk berdoa. Ya,
mushola itu juga tempat kesukaan Rumi saat masih kecil.
Ibunya
Andre lalu meminta Pak Ujang menjalankan mobil dan mencari mushola kecil di pinggir
jalan. Pak Ujang menepikan mobilnya di tepi jalan, tepat disamping mushola yang
bercat dinding hijau kusam. Mereka pun lamgsung masuk kedalam dan mencari Rumi.
Andre menuju pintu mushola yang terbuat dari kayu bercat hijau. Ia lalu membuka
pintu itu pelan-pelan, ternyata tak terkunci. Begitu pintu terbuka, ia melihat
seorang anak yang sedang tertidur meringkung dipojok mushola bagian dalam. Anak
itu kelihatan sangat lemah, ia meringkuk tertidur sambil memegangi perutnya.
Ya, anak itu adalaha Rumi. Ibu Andre dan Pak Ujang yang mendengar Andre
menyebut Rumi langsung masuk kedalam mushola. Rumi terbangun begitu mendengar
ada suara orang masuk kedalam mushola. Ia tampak kaget. Andre langsung
memeluknya dengan erat, Rumi membalas pelukan itu lalu menangis.
Setelah
Rumi tenang, mereka pun mencoba mengajak Rumi pulang. Namun Rumi bersikeras
menemui Ibunya. Sementara itu, disebuah jalan terjadi kecelakaan antara mobil
angkutan umum yang bertabrakan dengan bus yang melaju kencang. Risma yang luka
berat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan serius. Di rumah sakit,
Risma berhasil melewati masa kritis namun akibat pecahan kaca yang mengenai
kedua matanya, ia diperkirakan akan mengalami kebutaan.
Rumi
terlihat gelisah, begitu juga Andre yang tak henti menatap Ibunya, berharap ada
kabar dari Risma. Di rumah itu mereka menunggu hingga jam sepuluh malam. Andre
mencoba meyakinkan Rumi bahwa ibunya mungkin sedang berpergian jadi percuma
nunggu terus. Rumi melihat ke Ibu Andre yang terlihat letih bersandar di kursi
yang ada di depan rumah Risma. Rumi pun mengangguk dan memutuskan kembali ke
Surabaya malam itu juga.
Waktu
berlalu, sejak kejadian di Malang itu Rumi akhirnya kembali bersekolah. Rumi
tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan pintar. Kini, Ia bahkan sudah
memasuki kelas tiga SMA dan sebentar lagi akan ujian. Namun, selama beberapa tahun
itu ia masih sering mencari tahu keberadaan ibunya yang seakan hilang ditelan
bumi. Pencariannya akan sosok ibu kadang sering dilakukan diam-diam, namun
seakan buntu karena tak ada satu pun petunjuk tenatang ibunya.
Pendaftaran
mahasiswa baru selalu menjadi peristiwa yang ditunggu. Setiap universitas
menawarkan program-program yang menggiurkan. Ibu Andre menawarkan kepada Rumi,
jika ia ingin kuliah di luar negeri, namun Rumi dengan tegas mengatakan ingin
kuliah di kota Malang, tempat ia lahir.
Pilihan
Rumi jatuh ke sebuah universitas terkenal di Malang yang populer disebut Kampus
Biru. Di sana ia mengambil Fakultas Kedokteran, sama seperti Andre juga sesuai
dengan cita-citanya sebagai dokter. Bahkan Andre sendiri yang mengantar Rumi ke
Kampus Biru itu. Ada kenangan yang ingin Andre temui di kampus itu.
Beberapa
minggu kemudian, Rumi dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Keinginannya untuk kuliah di kota Malang terwujud. Sebenarnya, selain karena
impiannya, ia pun sengaja memilih kota Malang karena berharap masih dapat
menemukan ibunya.
Diam-diam
Rumi dijodohkan dengan seorang gadis cantik anak pengusaha terkenal dari
Jakarta. Kirana, seorang model yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan
Kraton Jawa. Hubungan keluarga Andre dengan pengusaha itu cukup baik, bahkan
sejak dulu pun sebenarnya Andre akan dijodohkan dengan salah satu kerabat
pengusaha itu, namun pilihan jatuh ke Rieska.
Suatu
hari, Rumi pun dikenalkan kepada Kirana. Semenjak perkenalan itu Kirana sering
sekali menelepon Rumi. Telepon berdering lagi, kali ini Rumi tak mengangkatnya.
Ia terus memacu mobilnya melewati keramaian hingga sampai di perempatan lampu
merah. Rumi melihat seorang pemgemis wanita buta. Rumi memacu mobilnya dengan
pelan begitu mendekati pengemis wanita yang buta itu. Rumi membuka kaca jendela
mobilnya, ia ingin melihat jelas wajah
pengemis buta itu. Terlihat jelas wajah pengemis itu yang sudah rapuh dimakan
usia. Namun ada kecantikan yang terpancar dari wajahnya yang lusuh itu. Sayup
kemudian terdengar suara nyanyian.
Kasih Ibu…sepanjang jalan
Tak terkira selama-lamanya
Kasih Ibu…
Ya, lagu Kasih Ibu! Sudah lama
sekali ia tak mendengar lagu itu. Tapi, siapa yang menyanyikan lagu itu?
Toottttt!!!
Tiba-tiba terdengar suara klakson dari mobil di belakangnya. Rumi pun
menutup pintu kaca jendela mobil lalu mengemudikan mobilnya, kembali ke
kontrakannya. Sepanjang jalan, ingatan tentang ibunya kembali hadir. Apalagi
setelah ia mendengar sayup-sayup nyanyian Kasih Ibu, lagu yang dulu selalu ia
nyanyikan bersama ibunya saat hendak tidur.
Sejak perjodohan itu Ibu Andre
sering sekali menyuruh Rumi untuk mengantar atau menemani Kirana. Ibu Andre
menelepon Rumi, tetapi Rumi mematikan teleponnya Ia merasa kembali suntuk,
penat yang sebenarnya tak harus ia rasakan. Rumi kemudian melewati beberapa
perempatan, sampai pada perempatan lampu merah tempat pengemis buta itu berada.
Entah kenapa ada keinginan dalam hatinya untuk ke tempat itu. Wajah pengemis
itu terlihat lusuh terbakar matahari. Pakaiannya yang kumal semakin membuat
penampilan pengemis itu terlihat menyedihkan. Rumi mengamati penegemis yang
terlihat sangat sabar menunggu kebaikan orang yang melintas di jalan. Rasa iba
sekaligus penasaran hadir di hati Rumi. Ia terus saja memerhatikan pengemis
buta itu hingga matahari mulai condong ke barat. Ketika pengemis itu hendak
pergi, Rumi pun segera menyebrang jalan untuk membantunya berdiri.
Rumi memberikan tongkat kepada
pengemis itu lalu terus mengawasinya hingga masuk kedalam gang kecil yang
berada tak jauh dari perempatan. Seperti ada rasa lega ketika Rumi membantu pengemis
buta itu.
Suatu hari, Ibunya Andre menelepon Rumi dan meminta Rumi untuk menemui Kirana di
Vila Batu. Namun, Rumi tak mau, tetapi Ibu andre memaksa dan karena kesal
kepada Rumi telepon pun dimatikan. Rumi pun merasa kesal. Rumi yang merasa
hidupnya selalu diatur lalu memutuskan tak pergi ke Vila Batu. Ia lebih suka
diam di rumah kontrakan atau keliling kota Malang sekedar menenangkan pikiran.
Tiba-tiba pikirannya teringat pengemis yang di lampu merah. Rumi pun memacu
mobilnya ke tempat itu.
Sayup ia mendengar pengemis buta itu
sedang menyanyikan lagu “Kasih Ibu” yang biasa dulu ia nyanyikan bersama
ibunya. Ada getaran hebat dalam hati Rumi. Suara itu sangat ia hafal. Ya, suara
ibunya! Tapi, apa mungkin pengemis itu ibunya? Rumi seakan mendengar bahwa
ibunya masih hidup, sedang menyanyikan lagu itu untuknya. Nyanyian itu ia ikuti liriknya dengan suara lirih. Rumi
mengamati wajah pengemis buta itu dengan seksama. Mirip sekali dengan ibunya!
Kenapa ia baru menyadari sekarang? Hampir tiga hari Rumi selalu mengikuti
pengemis itu, bahkan hingga ke rumahnya, sebuah gubug kecil yang reyot.
Rumi berpura-pura menanyakan alamat
kepada pengemis itu, alamat stasiun kereta. Pengemis itu dengan lancar
memberitahukan alamat stasiun kereta dengan jelas. Ia yakin pengemis itu
ibunya, tapi bagaimana membuktikannya. Akhirnya, Rumi pun tahu bahwa pengemis
itu ibunya dari sebuah liontin yang dulu ia berikan saat masih anak-anak. Rumi
tak kuasa manahan haru, ingin segera dipeluknya perempuan tua yang duduk
didepannya itu.
Pengemis buta yang ternyata Risma
itu terdiam. Nampak memikirkan sesuatu, terlihat dari kedua bola matanya yang bergerak
meski sudah tak mampu lagi melihat.
Rumi pun menawarkan ibunya agar ikut
bersamanya.Sebenarnya, Risma ingin tinggal bersama Rumi. Namun, ia juga
menyadari kondisinya yang kini sudah rapuh dan buta. Ia tak ingin hidupnya
menyengsarakan Rumi. Baginya, bertemu kembali dengan Rumi dan mengetahui bahwa anaknya
sudah besar dan meraih cita-citanya sudah menjadi kebahagiaan yang tak akan
terbayar oleh apa pun.
Tiba-tiba Risma batuk. Ia memegangi
dadanya, ada raut kesakitan yang jelas terlihat diwajahnya. Rumi mengajak
Ibunya untuk ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan di rumah sakit akhirnya
diketahui bahwa Risma menderita penyakit TBC yang sudah akut. Kondisi tempat
tinggal dan lingkungan makin memperburuk penyakitnya. Rumi pun makin kuat
keinginannya untuk segera membawa ibunya agar tinggal di rumah kontrakannya.
Rumi berhasil membujuk ibunya untuk tinggal bersamanya.
Keesokan harinya Rumi berpamitan
kepada Ibunya untuk pergi agak lama. Rumi akan mengantarkan Kirana ke Surabaya.
Setelah sampai di rumah di Surabaya. Kirana pun meminta izin untuk pulang
karena sudah tidak betah dengan tingkah Rumi yang begitu cuek. Di ruang tengah,
Rumi duduk di samping Andre, sementara Ibu Andre masih memperlihatkan wajah
kesalnya. Entah kenapa justru Rumi seakan memiliki keberanian untuk
mengungkapkan bahwa ia bertemu dengan ibunya. Namun, sebelum ia mengatakan itu,
Ibu Andre sudah menceramahinya tentang perjodohan. Perselisihan itupun terus
terjadi hingga Rumi akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga Soemoatmojo.
Rumi sampai di rumah kontrakannya
setelah Isya. Ia sempat membelikan beberapa lauk untuk makan ibunya. Keputusan
Rumi yang melepas semua warisannya membuat kalang kabut keluarga Andre. Mereka
terus membujuk Rumi, tetapi Rumi tetap tak mau. Setiap hari, Rumi terus
menemani ibunya. Karena terbiasa menggunakan mobil, Rumi pun kembali merasakan
bagaimana panasnya terik matahari saat harus berjalan kaki dari satu perusahaan
ke perusahaan untuk mencari kerja. Ia melakukan semua itu dengan hati yang
senang, tak sedikit pun ia menyesal melepas semua pemberian keluarga
Soemoatmojo.
Saat pulang ke rumah seusai mencari
pekerjaan, Rumi melihat mobil yang sudah ia kenal baik di halaman rumah
kontrakannya. Ia pun langsung masuk dan mendapati ibunya tengah berbincang dengan
Paman Andre. Ibunya pun menceritakan semuanya, bahwa yang selama ini ia sebut
paman itu adalah Ayahnya. Namun, Rumi tetap tak percaya dengan semua itu, Rumi
pun menyuruh Paman Andre yang sebenarnya Ayahnya untuk pulang kembali ke
Surabaya.
Selepas Andre pulang, Risma kemudian
mencoba menjelaskan kepada Rumi tentang cerita yang sebenarnya. Cerita ibunya
itu membuat Rumi merasakan marah sekaligus sedih. Orang yang selama ini ia
anggap Paman, ternyata adalah Ayah kandungnya, Meski merasa benci, namun pada akhirnya
Rumi pun menerima penjelasan dari ibunya juga kenyataan bahwa ia memang anak
dari Paman Andre.
Tiba-tiba Risma batuk, bercak darah
kemudian terlihat di telapak tangannya. Rumi yang tak mau mengambil resiko
segera membawa ibunya ke rumah sakit. Risma dibawa ke unit gawat darurat untuk
mendapat penanganan lebih lanjut. Keesokan harinya, Andre yang sudah berbicara
tentang Rumi dan Risma kepada Ibunya terlihat gelisah. Ibunya tetap meminta
Andre mengambil Rumi kembali ke rumah Surabaya. Ibu Andre dan Andre yang
diantar Pak Ujang pun langsung menuju ke Malang untuk menemui Rumi. Namun
dirumah kontrakan Andre tak menemukan siapapun. Tetangganya bilang bahwa Rumi
pergi ke rumah sakit sambil menggendong Ibunya. Andre dan Ibunya pun langsung
menuju ke rumah sakit. Di dalam kamar perawatan, Rumi tampak gelisah.
Tak lama kemudian, pintu kamar
diketuk. Lalu masuk Andre dan Ibunya. Rumi yang melihat itu tampak kaget, Rumi
pun menemui Andre dan Neneknya yang ikut masuk kedalam ruangan. Ibu Andre yang
sejak semula bersikukuh mengambil Rumi kembali, tiba-tiba merasa sangat
bersalah setelah melihat keadaan Risma yang di tubuhnya penuh alat dokter. Ia
pun meminta Rumi membantunya mendekat ke Risma. Rumi mendorong kursi roda agar
lebih dekat ke ranjang tempat ibunya berbaring. Ibunya Andre pun meminta maaf
kepada Risma dan Rumi.
Setelah menunggu Risma hingga sore
hari, Ibu Andre memutuskan kembali ke Surabaya karena ia merasa semua keputusan
sudah ada. Ia pun menerima keinginan Rumi yang ingin bersama dengan ibunya. Sementara
Andre meminta waktu untuk menemani Rumi dan Risma di rumah sakit. Ibu Andre pun
pulang ke Surabaya diantar Pak Ujang.
Tepat pukul sepuluh malam, tiba-tiba
Risma menggerakan jemarinya. Sejak siang tadi, kondisinya memang menurun bahkan
alat deteksi jantung menunjukkan jantung Risma sudah lemah sekali. Melihat
tangan Ibunya bergerak, Rumi segera menuju samping tempat ia tidur. Ia lalu
menggengam tangan kanan ibunya.
Kelopak mata ibunya terlihat
bergerak-gerak. Jemari tangannya pun membalas genggaman tangan Rumi. Andre
kemudian ikut duduk di sisi sebelahnya, ia menangis melihat keadaan Risma. Namun,
ia pun mencoba terlihat tegar didepan anaknya, Rumi. Andre yang kembali bertemu
dengan Risma tak kuasa menahan sesalnya. Ia pun sudah memutuskan untuk berkumpul
bersama anak dan perempuan yang masih sangat dicintainya itu.
Risma kemudian menggerakkan kembali
tanganya seakan ingin memeluk. Rumi mengecup kening ibunya lalu mengusap
airmata ibunya yang menetes di pipi.
Mendengar itu, Andre segera
mendekatkan dirinya. Ia lalu mengusap kening Risma dan menggenggam erat jemari
tangan kiri Risma. Ia merasa tangan itu pun membalas genggamannya.
Tak lama kemudian, genggaman tangan
ibunya terasa mengendur. Rumi yang merasakan itu segera melihat monitor detak
jantung yang ternyata sudah tak menunjukkan detak jantung ibunya. Rumi menangis
dan memeluk ibunya, sementara Andre mengusap rambut Rumi dan menggenggam erat
jemari Risma. Malam itu Risma menghembuskan nafas terakhirnya bersama
orang-orang yang dicintai.
|
|
Nama : Fadlia Rahman
Kelas : XI IPA 2
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar